Kamis, 17 Oktober 2013

Ketika gerimis berlabuh di hatiku

Kutemukan kau, ketika gerimis pelan menitik di dasar hati. Tetapi kekalutan membunuhku. Kau yang diam-diam menyuarakan sejuk tetapi menghempasku. Aku hanyalah selembar daun basah, setia menadah lukamu. Segala keresahanmu. Biarpun buih telah merubah jadi ombak, aku masih tegak berdiri di atas batu karang. Aku, untuk menyiramu perlahan dengan keharuman bunga jiwaku.

Rabu, 16 Oktober 2013

Rasa yang mencabik titik nadirku

Ada satu, menggumpal di relung dadaku. Sesak menyesak di antara tulang rusuk. Seperti memburu nafas panjang. Aku tengah berada pada pucuk ranting. Ingin segera menggapai puncak dedaunan tertinggi. Ingin melabuhkan rasa setelah lama bergoyang dihembus angin, ke sana kemari. Duhai rasa, tanggalkan aku dari kejemuan ini. Aku yang tak mau terlalu larut dalam pencarian. Segeralah sematkan aku di atas takdirku wahai Penentu Hidup.

Senin, 07 Oktober 2013

Dan terjatuh lagi

Jatuh, pasti sakit rasanya. Apalagi jika sampai berdarah-darah, ngilu dan lebam. Yang selalu dipertanyakan ketika jatuh adalah bisakah kau bangun? Bisakah kau bangkit, lantas berjalan kembali dan mengobati lukanya? Suatu ketika aku protes pada sahabat karibku. Hatiku tidak sedang kacau. Hanya saja aku ingin tahu, mengapa perasaanku dangkal? Aku tidak sedih, namun tak juga bahagia. Tanganku mulai mengetikkan huruf-huruf untuk diantarkan lewat analog kepadanya.
"Aku gagal."
"Lalu kau kecewa?"
"Tidak. Tapi pasti orang tuaku sangat kecewa."
"Kau kan bisa menjelaskannya perlahan. Atau jangan-jangan baru sekali ini kau gagal?"
"Kegagalanku, sudah tak terhitung banyaknya. Selalu jatuh dan bangun."
"Jadi apa yang perlu kuhibur?"
PLAK! Tamparan segar di hati. Kata-katanya itu begitu menusuk. Ah,sejak kapan dia jadi sangat bijak. Dia, jauh lebih dewasa dari yang pernah kukenal. Mungkin, dia satu-satunya sahabat yang tetap mendampingiku meskipun aku jatuh dan terluka parah. Sekarang aku terjatuh lagi dan dia kembali memapahku, seraya berkata : Kita tidak harus menyerah kalah pada derasnya arus air, tetapi kita perlu ikhlas menerima kegagalan dan belajar dari kegagalan itu.

Sepenggal ulasan dari buku Zaman Peralihan-Soe Hok Gie

Buku setebal 361 halaman ini membius mata saya dalam sekejap. Membuat penasaran yang tak ada ujung. Sebuah buku yang berbicara tentang tokoh mahasiswa fenomenal, Soe Hok Gie. Halaman terarkhir dari buku berjudul Zaman Peralihan ini menggelitik nurani saya sebagai perempuan. Bertanya-tanya pada diri sendiri, benar kah demikian? Di sini Soe Hok Gie dengan lantang dan tegas menyatakan argumennya tentang makhluk bernama perempuan. Silahkan disimak petikannya.
“Soe Hok Gie acapkali berbicara tentang cinta, seks dan pesta. “Dalam dunia perjuangan mahasiswa, rata-rata disadari bahwa wanita atau pacaran sering jadi hambatan. Walaupun secara jujur kita harus akui bahwa kadang-kadang kita tertarik pada rekan kita. Dan biasanya kita menekan perasaan ini, the tragic life? Apa boleh buat, yang namanya mencari pasangan ideal tak semudah membeli baju. Sudah pasti langka. Mungkin kita tidak pernah cross path dengan wanita seperti itu. maksudnya wanita yang mau mengerti perjuangannya, tak mengikatnya, sehingga ia tetap bebas bergerak dinamis. Biasanya wanita itu hanyalah menjadi laba-laba betina terhadap suaminya.” Hok Gie sadar bahwa hubungannya dengan pacarnya tak mempunyai masa depan. Ia hanya bisa berharap,”Suatu hari nanti dia akan tumbuh menjadi seorang wanita matang dan berani menghadapi semua tantangan dan menikmati kehidupan yang menakjubkan.” Soe Hok Gie aktif dalam organisasi Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSOS), tempat dimana dia sering bertukar pikir dengan beberapa tokoh terkemuka yang kemudian hari membantu Soeharto. Pada tahun 1966 ketika mahasiswa banjir ke jalan dengan aksi trituranya, Soe termasuk dalam barisan paling depan. Kabarnya, ia adalah salah satu tokoh kunci terjadinya aliansi mahasiswa-ABRI pada 1966. Suatu kali Soe Hok Gie mendapat surat kaleng dari seseorang yang mengaku pecinta Bung Karno. Rupa-rupanya si pengirim surat itu marah dengan kritik-kritik Soe dalam Koran mingguan Mahasiswa Indonesia. Si pengirim surat memaki-maki Soe. Skripsi Soe yang membahas tentang paradoksal manusia dalam sejarah berjudul “Mereka yang Berada di Persimpangan Jalan.”
Demikian petikan halaman yang saya maksud. Saya pribadi menemukan beberapa pertanyaan sepanjang garis perjuangan Soe Hok Gie. Soe, supersemar, tumbangnya Soekarno dan naiknya Soeharto menjadi presiden bukankah unsur terkait yang tidak bisa dipisahkan?

Catatan seorang sarjana

Sarjana... Rasanya berat banget menyandang gelar itu. Menjadi sarjana adalah tujuan? Saya menyesal punya tujuan menjadi sarjana ketika saya memasuki bangku kuliah. Baru sadar sekarang, bahwa tujuan seharusnya bukan itu. Bukan mendapatkan gelar sarjana.Tapi, tujuan sebenarnya adalah tujuan yang sifatnya hakiki. Abadi dan tidak terputus meski kita telah terkubur di liang lahat. Jika tujuan kita hanyalah gelar sarjana, mudah sekali bagi siapa saja meraihnya. Tidak perlu melalui kuliah di universitas negeri dengan predikat A pun kita sudah bisa menyandang gelar tersebut. Jadi sob, buat kamu yang belum terlanjur melafalkan tujuan, jangan pernah berniat masuk PTN untuk memenangkan gelar sarjana. Sarjana bukan tujuan namun hak yang mestinya kamu dapatkan ketika selesai menempa ilmu di perguruan tinggi.

Relung-relung Cahaya (Bagian 2-End)

Berbagi waktu dengan alam Dan kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya Hakikat manusia
Sore mengusir udara siang yang menyengat. Lazuardi nyaris menenggelamkan matahari. Warnanya elok kuning kemerahan. Aku tak ingin menghilangkan momen terindah. Seusai persiapan acara perkenalan untuk nanti malam, aku segera melangkah keliling desa. Tentunya dengan kamera tercinta. Desa yang indah sebenarnya. Semua masih serba hijau. Hamparan sawah luas menantang cakrawala. Gemericik air sungai terdengar sejauh kilometer sembilan. Apapun yang kulalui tak lepas dari jepretan kamera. Kupalingkan kamera dari bidikan mata, tatkala melihat seorang anak laki-laki yang menangis digendongan ibunya. Mereka berdiri di depan sebuah rumah sangat sederhana bertembok kayu tua. Alasnya pun hanya tanah saja.
“Maaf Bu, anaknya kenapa? Kok nangis?” ku dekati wanita itu, menatapnya dengan tatapan iba.
“Ini Nak, anak saya lapar,”
“Kenapa nggak makan aja Bu, kasihan adeknya...”
Sejenak dia menatap wajah anaknya, kemudian gantian menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Saya ndak punya makanan, Nak...”
Aku melirik ke samping rumah itu. Ada kebun, tetapi semuanya kering. Dia terus berusaha mendiamkan tangis anaknya.
“Suami ibu kemana?”
“Suami saya...meninggal Nak, saya bertiga sama anak saya. Masih kecil-kecil...”, katanya, seraya menunjukkan padaku dua anak berpakaian abu-abu lusuh. Mereka sedang bermain di lapangan yang gersang.
“Mereka juga belum makan?”
Dia menggeleng. Astaghfirullah... Rasa iba merasuk ke jantungku. Sebelum aku berpamitan padanya, aku berjanji dalam hati akan kembali kemari nanti seusai maghrib. Aku ingin membawakan sesuatu untuknya. Setidaknya untuk makan tiga hari ke depan. Ku ingat tadi Sigit membawa beberapa kardus berisi sembako. *** Braaakkkk! Kursi kayu terlempar di depanku. Nyaris mengenai kakiku. Fian? Galih? Kenapa ribut-ribut begini? Aku masih berdiri terpaku di pintu basecamp. Menyaksikan pemandangan memalukan.
“Kami tidak setuju! Masalah pendidikan adalah masalah paling krusial yang harus didahulukan,,berarti besok jatah tim kami!”
“Kau pikir bangsa ini akan hidup jika dijejali teori saja?? Mereka butuh makan, minum…itu yang bisa bikin mereka hidup. Ini sudah diatur bu Lurah,,jadwal kalian besok lusa!”
Seseorang mendorong kawan Fian.
“Heh! Kalian seenaknya sudah merebut wilayah kami, sekarang kalian merebut jatah kami. Kalian belum tahu siapa saya yaa??”
“Emang siapa elo?? Hahahaha….”
“Kami semua oran-orang HMI, GMNI..jangan macam-macam!”
Aku geram. Ku lihat Fian hanya diam.
“Cukuuuuupppp!!!” Teriakku.
Semua mata menatapku. Mereka membisu. Benar-benar membisu.
“Kalian ini mahasiswa, seharusnya berpikir dengan jernih. Tidak dengan cara kekanak-kanakan seperti ini. Apa sih yang kalian permasalahkan?” aku memandang mereka satu-persatu.
“Kita di sini membawa satu nama, satu almamater. Buang jauh-jauh itu ekstra, golongan, apapunlah…kita satu…bangsa Indonesia.”
“Mahasiswa Indonesia yang harus membangun bangsa ini, bukan malah gontok-gontokan. Apa bedanya kita dengan anggota DPR yang korupsi dan suka ribut ketika sidang kalau begini saja kita tidak bisa menyelesaikan masalah dengan baik-baik.” Tukasku.
“Re… tapi… “, Sigit tergagap.
“Tidak ada kata tapi. Semua harus berdamai sekarang! Besok semuanya harus saling mendukung, apapun programnnya.” Aku memotong kata-kata Sigit. “Yang penting ada manfaatnya untuk desa ini. Saya yakin, meski kita lahir dari bawah tapi kita punya cita-cita yang besar. Satu cita-cita yang sama, yaitu membangun bangsa, kecuali yang punya kepentingan tertentu,” ujarku seraya melirik Galih.
“Sekarang semuanya minta maaf, jabat tangan, ayo!” Perintahku.
Entah mengapa, malam itu semua terbius padaku. Mereka berjabat tangan. Saling berpelukan. Fian yang sejak tadi diam, terperangah menatapku. Tatapan yang aneh.
“Di RW 5 ada warga yang belum makan hari ini, kita harus ke sana memberikan bantuan. Besok kita ajak dia ikut penyuluhan, supaya dapat bantuan juga.” Kataku sembari mencari kardus kosong.
“Sekarang Re?” Tanya Sigit.
“Ya. Kenapa?” aku balik bertanya.
“Sudah petang Re… RW 5 jauh, rawan penjambretan…dan…”,
“Sekarang atau tidak sama sekali Vin? Tega melihat mereka kelaparan?” Tegasku.
Aku melangkah ke mushola. Seusai sholat aku ke ruang penyimpanan. Kemudian keluar dengan membawa tentengan kardus. Tanpa bicara, ku ambil kunci motor di meja. Kawan-kawanku telah beranjak. Sibuk pada aktivitas masing-masing. Gladi resik, begitu alasannya. Ku starter motor. Lamat-lamat kudengar suara seseorang memanggilku sebelum aku menarik gas.
“Aku antar kamu ya?”
Aku terperangah. Dia segera memboncengku. Fian.
“Kenapa Rei? Kita masih sahabat kan?” Dia menatapku dari kaca spion motor.
Aku tidak menjawab dan menoleh ke belakang. Ku tarik gas pelan-pelan. Perjuangan akan dimulai, bersama sahabatku. ***

Minggu, 06 Oktober 2013

Relung-relung Cahaya (Bagian 1)

“Kami poetra dan poetri indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air indonesia, kami poetra dan poetri indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangs indonesia, kami poetra dan poetri indonesia mengjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia. Itu bunyi teks kalimat Sumpah Pemuda Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928 adalah sebuah pengakuan eksistensi Pemuda Indonesia dalam mempertahankan, mempersatukan, dan membangun bangsa ini..”
Kalimat-kalimat itu seolah terus menggantung di langit. Menimbulkan berjuta tanya yang tak henti. Panas yang mencerca kini membaur bersama rasa galau. Inikah jalan-Nya? Esensi dari sebuah pelatihan. Bukan hanya sekedar mencari titel popularitas dan jabatan yang lebih tinggi. Bukan ambisi yang menyalak-nyalak dari persaingan politik. Tetapi, kewajiban yang mesti dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan secara vertikal dan horisontal! Kini, aku telah sampai di bukit peradaban. Mau tidak mau harus memberikan kemajuan bagi peradaban itu. Walau sebenarnya pun ada ribuan pisau yang menikam jantungku. Ikut pelatihan ini bukan keinginananku. Aku hanya terdampar. Ya, terdampar di antara dua rasa. Di satu sisi aku tak ingin bersaing dengan sahabatku, tapi di sisi lain ada janji yang harus kutepati. Ada benteng pertahanan dan kepedulian yang harus kupertahankan. Masih kuingat wajah itu, Shakira dan Galan. Dua orang yang sangat berjasa untukku. Shakira, mantan ketua BEM yang dengan susah payah membangun pemerintahan BEM hingga mencapai puncak kesuksesannya. Pemerintahan BEM yang dibangunnya lewat sebuah partai berideologi netral, kejam jika ku harus menghancurkannya. Dan Galan... seorang kakak yang...
“Re...ayo turun! Udah sampai neng...”
Aku terperanjat. Ku perhatikan sekeliling. Deretan rumah bertembok kayu dan berlantai tanah memadati pinggiran jalan. Beberapa anak kecil berpakaian lusuh dan perempuan separuh baya nanar memandangi kami. Seolah berharap sesuatu... seketika hatiku berdesir.
“Kita ke kelurahan dulu,” katanya seraya menggandeng tanganku. Sosok yang paling mengerti aku.
“Ini desa yang akan kita perjuangkan?”
“Ya Re... Kenapa?”
“Tragis ya Vin...”
Kawanku yang cantik itu tersenyum.
“Perjuangan kita yang akan mengubah nasib mereka...”
Aku menghela napas panjang. Angin berhembus semakin kencang. Menyibakkan daun-daun pohon randu di depan kantor kelurahan. Sepi menyergap. Kelurahan ini tak seramai kelurahan di tengah kota. Begitu pula dengan kantornya. Hanya empat orang pegawai yang ku lihat di dalamnya. Seorang wanita berjilbab hitam menyambut kami dengan ramah. Dia nampak bijak dengan kacamatanya. Sudah sejak beberapa hari lalu, aku dan kawan-kawan satu tim merencanakan pertemuan ini. Ada tugas-tugas kemanusiaan dan sosial yang harus kami jalankan di sini selama seminggu ke depan. Aku tidak tahu, apakah tim sahabatku sudah sampai lebih dulu ataukah belum. Kami mendapat satu desa yang sama.
“Kondisi desa ini sangat memprihatinkan nak... Saya baru setahun di sini, ternyata banyak hal yang harus dibenahi. Nasib warganya tidak seberuntung nasib warga desa yang hidup di tengah kota.”
“Lalu permasalahan apa yang sering menimpa desa ini?” Sigit, ketua tim mengajukan pertanyaan.
Bu Lurah meletakkan kacamatanya di meja, kemudian menatap kami, penuh kesenduan.
“Kebanyakan masalah ekonomi dan kesehatan, Nak. Sebenarnya untuk masalah ekonomi sudah dibantu pemerintah. Mereka diberi bibit lele untuk dikembangkan, tapi nggak tahu kenapa, kok lelenya tidak bisa berkembang. Gagal, Nak. Begitu juga dengan lahan yang segitu banyaknya, cuma jadi lahan tidur, ya akibatnya kalau musim kemarau sering kekeringan.
“Kesehatan sendiri menjadi masalah krusial yang harus mendapat perhatian penuh. Desa ini baru saja terkena kasus, seorang ibu yang habis melahirkan meninggal karena infeksi ari-ari.”
“Mengapa bisa begitu,Bu?” tanya Vina, mahasiswi kedokteran. Aku tetap diam, sibuk dengan kamera laserku. Mengambil foto-foto mereka dan ruangan kantor kelurahan. Tetapi masih ku dengar jelas suara Bu Lurah memberikan keterangan.
“Karena melahirkannya tidak sama bidan, tapi sama dukun. Padahal ya Nak, di sini sudah ada bidan gratis. Lainnya, ada masalah jamban. Sudah diberi jamban, tapi masih ada warga yang buang hajat sembarangan. Kayak di RW 4 itu, sarang nyamuknya banyak... ya warganya tidak punya kesadaran untuk menjaga kebersihan. Lha wong diajak kerja bakti aja susah.. jadi Nak, ibu berharap, kedatangan kalian di sini walaupun sebentar, bisa memberikan perubahan sedikit-sedikit. Ya, terutama masalah budidaya lele, tolong warga diberi penyuluhan sekalian prakteknya. Saya iri sama kampung sebelah, budidaya lelenya berhasil,”
“Menyedihkan ya Bu, kondisinya...Kami akan berusaha Bu, sebisa mungkin memberikan ilmu yang bermanfaat untuk warga supaya desa ini bisa maju. Ya kan Rei??”
DUG! Aku terperanjat. Garuk-garuk kepala sambil cengar-cengir, seperti biasanya. Sigit hanya geleng-geleng kepala. Ya Tuhan...ternyata banyak PR yang harus diselesaikan. Diam-diam ku sesali niatku yang setengah hati mengikuti program ini. Terbayang lagi wajah sahabatku. Dia yang sangat ku sayang. Yang mampu membuatku tertawa sekaligus menangis, senang dan susah, duka serta suka. Melebur jadi satu, membingkai asa. Tapi, dua bulan ini, seakan semuanya luruh pelan-pelan. Aku curiga, dia pun curiga. Aku takut, mungkin dia lebih takut.

Jumat, 04 Oktober 2013

Wajah-wajah Bernama Berterbangan di Pelupuk Mataku

Entah darimana datangnya, rupa-rupa wajah di bawah temaram lampu malam. Aku menyimpulkannya sebagai bagian tiang-tiang perjuangan. Saat bulan hanya bisa melongo, menyaksikan ribuan kata terlempar. Berserakan di jalan-jalan. Masuk ke perut-perut manusia. Berjejalan di teras senayan. Mereka, wajah-wajah bernama, berdesakan di pelupuk mataku, seakan hendak mendaur rekaman tahun 1966. Wajah-wajah bernama yang membuat jantungku gemetar. Aku kah mereka? Mereka kah aku? Sementara kibaran merah-putih meliuk-liuk terus, menyapu di pipi legam sang wajah bernama. Kuingat benar, pekikan lidah mereka menembus atmosfer. Tapi, tetap saja, zaman masih sama.

Sajak Mesra yang Hinggap dalam aliran Darahku

Bagaimana mungkin kutinggalkan pahatan sajak di dinding hati? Meski malam tak melukisnya dengan sempurna. Aku terus saja melafalkan tiap hurufnya. Menjadikan hembusan kata-katanya sebagai ruh nafasku. Hingga ratusan kalimat nyinyir mengguncang dadaku. Tapi, iramanya terasa amat mesra, menggulingkan ego yang lama mencabik-cabik perjalanan. Dan hangat pun menjelma bersama aliran darah. Lalu bertanya, apakah daun-daun melekat di atas wajahku adalah serupa bait-bait abadi? Akan tetap ada walau musim tidak lagi menghadirkan hujan. Sekarang atau nanti, selalu kupuisikan senada degup jantung kemudian kudonorkan separuhnya untukmu agar kau menepikan langkah di arteriku, suatu hari.

Selasa, 01 Oktober 2013

Menunggu (untukku)

Menunggu... adalah kata yang paling dibenci oleh manusia. "Menunggu itu tidak enak" begitu kata mereka. Menunggu, adakah yang mau melakukannya untukku?

Anomali (4)

berjalan menyusuri belantara tanpa pernah peduli marabahaya tidak kah kau ingin bertanya apa aku baik-baik saja dunia ini fana manusia hanya...