Senin, 07 Oktober 2013

Dan terjatuh lagi

Jatuh, pasti sakit rasanya. Apalagi jika sampai berdarah-darah, ngilu dan lebam. Yang selalu dipertanyakan ketika jatuh adalah bisakah kau bangun? Bisakah kau bangkit, lantas berjalan kembali dan mengobati lukanya? Suatu ketika aku protes pada sahabat karibku. Hatiku tidak sedang kacau. Hanya saja aku ingin tahu, mengapa perasaanku dangkal? Aku tidak sedih, namun tak juga bahagia. Tanganku mulai mengetikkan huruf-huruf untuk diantarkan lewat analog kepadanya.
"Aku gagal."
"Lalu kau kecewa?"
"Tidak. Tapi pasti orang tuaku sangat kecewa."
"Kau kan bisa menjelaskannya perlahan. Atau jangan-jangan baru sekali ini kau gagal?"
"Kegagalanku, sudah tak terhitung banyaknya. Selalu jatuh dan bangun."
"Jadi apa yang perlu kuhibur?"
PLAK! Tamparan segar di hati. Kata-katanya itu begitu menusuk. Ah,sejak kapan dia jadi sangat bijak. Dia, jauh lebih dewasa dari yang pernah kukenal. Mungkin, dia satu-satunya sahabat yang tetap mendampingiku meskipun aku jatuh dan terluka parah. Sekarang aku terjatuh lagi dan dia kembali memapahku, seraya berkata : Kita tidak harus menyerah kalah pada derasnya arus air, tetapi kita perlu ikhlas menerima kegagalan dan belajar dari kegagalan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar