Sepenggal ulasan dari buku Zaman Peralihan-Soe Hok Gie

Buku setebal 361 halaman ini membius mata saya dalam sekejap. Membuat penasaran yang tak ada ujung. Sebuah buku yang berbicara tentang tokoh mahasiswa fenomenal, Soe Hok Gie. Halaman terarkhir dari buku berjudul Zaman Peralihan ini menggelitik nurani saya sebagai perempuan. Bertanya-tanya pada diri sendiri, benar kah demikian? Di sini Soe Hok Gie dengan lantang dan tegas menyatakan argumennya tentang makhluk bernama perempuan. Silahkan disimak petikannya.

“Soe Hok Gie acapkali berbicara tentang cinta, seks dan pesta. “Dalam dunia perjuangan mahasiswa, rata-rata disadari bahwa wanita atau pacaran sering jadi hambatan. Walaupun secara jujur kita harus akui bahwa kadang-kadang kita tertarik pada rekan kita. Dan biasanya kita menekan perasaan ini, the tragic life? Apa boleh buat, yang namanya mencari pasangan ideal tak semudah membeli baju. Sudah pasti langka. Mungkin kita tidak pernah cross path dengan wanita seperti itu. maksudnya wanita yang mau mengerti perjuangannya, tak mengikatnya, sehingga ia tetap bebas bergerak dinamis. Biasanya wanita itu hanyalah menjadi laba-laba betina terhadap suaminya.” Hok Gie sadar bahwa hubungannya dengan pacarnya tak mempunyai masa depan. Ia hanya bisa berharap,”Suatu hari nanti dia akan tumbuh menjadi seorang wanita matang dan berani menghadapi semua tantangan dan menikmati kehidupan yang menakjubkan.” Soe Hok Gie aktif dalam organisasi Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSOS), tempat dimana dia sering bertukar pikir dengan beberapa tokoh terkemuka yang kemudian hari membantu Soeharto. Pada tahun 1966 ketika mahasiswa banjir ke jalan dengan aksi trituranya, Soe termasuk dalam barisan paling depan. Kabarnya, ia adalah salah satu tokoh kunci terjadinya aliansi mahasiswa-ABRI pada 1966. Suatu kali Soe Hok Gie mendapat surat kaleng dari seseorang yang mengaku pecinta Bung Karno. Rupa-rupanya si pengirim surat itu marah dengan kritik-kritik Soe dalam Koran mingguan Mahasiswa Indonesia. Si pengirim surat memaki-maki Soe. Skripsi Soe yang membahas tentang paradoksal manusia dalam sejarah berjudul “Mereka yang Berada di Persimpangan Jalan.”
Demikian petikan halaman yang saya maksud. Saya pribadi menemukan beberapa pertanyaan sepanjang garis perjuangan Soe Hok Gie. Soe, supersemar, tumbangnya Soekarno dan naiknya Soeharto menjadi presiden bukankah unsur terkait yang tidak bisa dipisahkan?

Share:

0 comments