Senin, 07 Oktober 2013

Relung-relung Cahaya (Bagian 2-End)

Berbagi waktu dengan alam Dan kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya Hakikat manusia
Sore mengusir udara siang yang menyengat. Lazuardi nyaris menenggelamkan matahari. Warnanya elok kuning kemerahan. Aku tak ingin menghilangkan momen terindah. Seusai persiapan acara perkenalan untuk nanti malam, aku segera melangkah keliling desa. Tentunya dengan kamera tercinta. Desa yang indah sebenarnya. Semua masih serba hijau. Hamparan sawah luas menantang cakrawala. Gemericik air sungai terdengar sejauh kilometer sembilan. Apapun yang kulalui tak lepas dari jepretan kamera. Kupalingkan kamera dari bidikan mata, tatkala melihat seorang anak laki-laki yang menangis digendongan ibunya. Mereka berdiri di depan sebuah rumah sangat sederhana bertembok kayu tua. Alasnya pun hanya tanah saja.
“Maaf Bu, anaknya kenapa? Kok nangis?” ku dekati wanita itu, menatapnya dengan tatapan iba.
“Ini Nak, anak saya lapar,”
“Kenapa nggak makan aja Bu, kasihan adeknya...”
Sejenak dia menatap wajah anaknya, kemudian gantian menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Saya ndak punya makanan, Nak...”
Aku melirik ke samping rumah itu. Ada kebun, tetapi semuanya kering. Dia terus berusaha mendiamkan tangis anaknya.
“Suami ibu kemana?”
“Suami saya...meninggal Nak, saya bertiga sama anak saya. Masih kecil-kecil...”, katanya, seraya menunjukkan padaku dua anak berpakaian abu-abu lusuh. Mereka sedang bermain di lapangan yang gersang.
“Mereka juga belum makan?”
Dia menggeleng. Astaghfirullah... Rasa iba merasuk ke jantungku. Sebelum aku berpamitan padanya, aku berjanji dalam hati akan kembali kemari nanti seusai maghrib. Aku ingin membawakan sesuatu untuknya. Setidaknya untuk makan tiga hari ke depan. Ku ingat tadi Sigit membawa beberapa kardus berisi sembako. *** Braaakkkk! Kursi kayu terlempar di depanku. Nyaris mengenai kakiku. Fian? Galih? Kenapa ribut-ribut begini? Aku masih berdiri terpaku di pintu basecamp. Menyaksikan pemandangan memalukan.
“Kami tidak setuju! Masalah pendidikan adalah masalah paling krusial yang harus didahulukan,,berarti besok jatah tim kami!”
“Kau pikir bangsa ini akan hidup jika dijejali teori saja?? Mereka butuh makan, minum…itu yang bisa bikin mereka hidup. Ini sudah diatur bu Lurah,,jadwal kalian besok lusa!”
Seseorang mendorong kawan Fian.
“Heh! Kalian seenaknya sudah merebut wilayah kami, sekarang kalian merebut jatah kami. Kalian belum tahu siapa saya yaa??”
“Emang siapa elo?? Hahahaha….”
“Kami semua oran-orang HMI, GMNI..jangan macam-macam!”
Aku geram. Ku lihat Fian hanya diam.
“Cukuuuuupppp!!!” Teriakku.
Semua mata menatapku. Mereka membisu. Benar-benar membisu.
“Kalian ini mahasiswa, seharusnya berpikir dengan jernih. Tidak dengan cara kekanak-kanakan seperti ini. Apa sih yang kalian permasalahkan?” aku memandang mereka satu-persatu.
“Kita di sini membawa satu nama, satu almamater. Buang jauh-jauh itu ekstra, golongan, apapunlah…kita satu…bangsa Indonesia.”
“Mahasiswa Indonesia yang harus membangun bangsa ini, bukan malah gontok-gontokan. Apa bedanya kita dengan anggota DPR yang korupsi dan suka ribut ketika sidang kalau begini saja kita tidak bisa menyelesaikan masalah dengan baik-baik.” Tukasku.
“Re… tapi… “, Sigit tergagap.
“Tidak ada kata tapi. Semua harus berdamai sekarang! Besok semuanya harus saling mendukung, apapun programnnya.” Aku memotong kata-kata Sigit. “Yang penting ada manfaatnya untuk desa ini. Saya yakin, meski kita lahir dari bawah tapi kita punya cita-cita yang besar. Satu cita-cita yang sama, yaitu membangun bangsa, kecuali yang punya kepentingan tertentu,” ujarku seraya melirik Galih.
“Sekarang semuanya minta maaf, jabat tangan, ayo!” Perintahku.
Entah mengapa, malam itu semua terbius padaku. Mereka berjabat tangan. Saling berpelukan. Fian yang sejak tadi diam, terperangah menatapku. Tatapan yang aneh.
“Di RW 5 ada warga yang belum makan hari ini, kita harus ke sana memberikan bantuan. Besok kita ajak dia ikut penyuluhan, supaya dapat bantuan juga.” Kataku sembari mencari kardus kosong.
“Sekarang Re?” Tanya Sigit.
“Ya. Kenapa?” aku balik bertanya.
“Sudah petang Re… RW 5 jauh, rawan penjambretan…dan…”,
“Sekarang atau tidak sama sekali Vin? Tega melihat mereka kelaparan?” Tegasku.
Aku melangkah ke mushola. Seusai sholat aku ke ruang penyimpanan. Kemudian keluar dengan membawa tentengan kardus. Tanpa bicara, ku ambil kunci motor di meja. Kawan-kawanku telah beranjak. Sibuk pada aktivitas masing-masing. Gladi resik, begitu alasannya. Ku starter motor. Lamat-lamat kudengar suara seseorang memanggilku sebelum aku menarik gas.
“Aku antar kamu ya?”
Aku terperangah. Dia segera memboncengku. Fian.
“Kenapa Rei? Kita masih sahabat kan?” Dia menatapku dari kaca spion motor.
Aku tidak menjawab dan menoleh ke belakang. Ku tarik gas pelan-pelan. Perjuangan akan dimulai, bersama sahabatku. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anomali (4)

berjalan menyusuri belantara tanpa pernah peduli marabahaya tidak kah kau ingin bertanya apa aku baik-baik saja dunia ini fana manusia hanya...