Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Maret 2022

Antara Kenangan (2)

kugenggam tanganmu

tatkala napas terempas dari dada

tak lagi ada detak jantung

kulitmu membeku

 

kualirkan energi

dan terus memanggil nama itu

berharap kau tak lekas pergi

sebab aku belum siap

seorang diri hadapi

dunia yang terjal jalannya

 

tiga puluh menit berlalu

ku masih yakin kau belum pergi

meski nadimu tak terasa lagi

 


tapi

pada menit ketiga puluh satu

ku rasa aliran darahmu

denyut nadi

irama jantung

pelan ku lepas genggaman itu

aku mundur

manakala mereka hampiri tubuhmu

yang mulai hangat

 

kukira kau tak pernah tahu

aku yang meminta kau kembali

dan terus menarik erat

saat kau hendak terpental

ke alam yang tak kukenal

 

sampai kau tersadar

tak ada kata terucap untukku

tetapi dari kornea matamu terlihat

kau berusaha kuat

untuk tidak melenakan hatiku

dengan “terima kasih” dan “sayang”

 

Yogyakarta, 2011

Senin, 11 Oktober 2021

Kembali


Bait lagu di masa itu

tiba-tiba bergemuruh di dadaku

teringat pada sesuatu

yang dahulu membuatku pilu


semestinya

segala kenangan itu jadi abu

lebur bersama waktu

tetapi bayangan di mataku

tak hilang meski gelap menyatu 

Selasa, 07 September 2021

Seekor Anjing yang Ditinggal Tuannya

Malam itu

saat ku duduk di meja kerja

merangkai kata-kata

tiba-tiba

ku dengar senandung tak biasa

 

ia

menunggu di depan pintu

sesekali menggonggong

 

ku buka pintu

napasnya tersengal

tubuh kurus

di matanya, ada bulir tertahan

ia

menatapku

mengharap sepotong roti

namun aku tak punya roti

ku berikan tahu

ia pun makan

 

malam-malam berikutnya

ia datang kembali

mengendus-endus di balik pagar

berharap aku keluar

sekadar mengobati lapar

 

 

7 September 2021

Pisau yang Melukai Lenganku

Tajam

menukik di epidermis

menembus dermis

mengoyak hipodermis

pelan menebas

namun tak berdarah

 

ujung runcingnya masih melekat

gagangnya mengkilat

makin dalam

mengikis lapisan jaringan

berupaya mematahkan tulang

sisakan luka

 sementara

nun jauh di sana

seseorang tertawa

tatkala dengar aku teriak

ia berbaju malaikat

tetapi raganya kobaran api 

ia lah

pemilik besi berkarat

yang menikam lenganku.

 

 

Kab. Tegal,  2 September 2021

Tempat (yang Dulu) Kau Sebut Rumah

Tumpukan bata di sudut jalan mulai berlumut

tak ada angin berembus lewat jendela setiap pagi

pintu berderit hanya sekali

tatkala penjaga datang sore hari

 

Salon dan DVD di bufet berkarat

album kenangan tahun 80an kesukaanmu berdebu

euforia siaran pertandingan sepak bola kini membisu

tayangan film kolosal tak lagi nyala di televisi kamar itu


 

Kau bungkam,

membiarkan ruang itu tak bertuan

kursi, meja, lemari, bangku tua bergerak tanpa sentuhan

toilet senyap tanpa suara keran

 

Seumpama waktu serupa jarum jam

ingin ku rakit lagi keping kehidupan

Tapi waktu cuma bisa ditenun ke depan

tempat (yang dulu) kau sebut rumah telah jadi kenangan

 

 

 

Kab. Tegal, 5 Agustus 2021

R.I.P

Untuk orang yang telah menjadikanku manusia berguna

Jumat, 15 Mei 2020

Sajak September


Hanya ada anyir darah, darah, dan darah
serta mata yang kian memerah
di hadapan kastel nan megah
tangan terkepal itu, setia,
menunggu dekrit sang raja

1
Kurukshetra [1] yang baru saja kudengar, seperti dejavu[2]
tragedi dua puluh satu tahun lalu, belum usang dari ingatanku
Kini kubiarkan hatiku membara di semesta
dan kuabaikan kerawanan di pelupuk mata
 
2
Terberkatilah! Para demonstran yang menagih satir[3] itu
Pekiknya adalah suara resah manusia pada ketimpangan yura
manakala membiarkan tikus gentayangan seperti hantu
Lihatlah!
Raganya siap membeku, dihujani gas air mata
bahkan berkalang tanah, ditimpa sebutir peluru

3
Demokrasi, kawan semasa hidupnya
betapa lega mayat politik itu menuju keabadian di jagad raya
sebab telah ia getarkan gelombang suara tanpa aba-aba,
merembet begitu saja ke belantara tak berpeta.
Kini sabdakan padanya dengan bestari,
wahai raja yang gemar mendikte bala tentara, dan yakinkan dirinya
bagaimana melontar kritik tanpa syak wasangka?

4
Sebab kali ini tidak ada jeda, kurukshetra
meyakinkannya bahwa kesetaraan harus ditegakkan.
Kini terimalah persembahan jiwa yang gundah ini
untuk melindungi ibu pertiwi


[1] Padang pertempuran baratayuda—untuk mengibaratkan konfrontrasi di negeri ini.
[2] Pernah dilihat (bahasa Perancis).
[3] Sumpah

Di Atas Sebuah Kapal


Entah sudah berapa lama, ombak menukil bagian jiwaku. Lebur bersama samudera. Bergerak-gerak mengikuti butiran buih. Tegak berdiri, menatap teropong angin, yang melarikan separuh kornea. Di sana, mecusuar mengerat kilau di hati. Dermaga megah melambai perih. Memaksa sekata rindu terlempar menebas karang nun jauh.

Tetapi, dindingku telah koyak. Tiada lagi teduh. Lenyap segala hijau. Sungai tidak lagi mengalir tenang menyejuki hulu dan hilir. Dan atapnya pun tak mampu menyelaputi aroma panas. Isinya, berhamburan, cerai berai, laksana merapi memuntahkan bara, lantas meluluhlantakan hamparan bumi.

Dan kini, kapalku karam. Mencium terumbu karang. Aku menyelesak keluar. Bercumbu pada ribuan ikan. Menanggalkan daratan, karna kedalaman ini tempatku pulang.

Cirebon, 24 Agustus 2015

Ketika Ramadan Tak Seperti Biasanya


Ramadan ini, orang kerap mengupacarakan kecemasan
Mengayun langkah sembunyi-sembunyi dalam kegelapan
Alpa dari tadarusan, apalagi pengajian
Dicekam ketakutan sembahyang di rumah peribadatan
Menaruh syak wasangka pada kerumunan

Ramadan ini, sesunyi tiba
Tak ada orang bercengkerama usai berbuka
Portal-portal mengunci desa
Gema azan sayup-sayup saja
Tradisi silaturahmi jejak semata

Apakah sebab engkau corona?
Wewangi ramadan samar tercium di semesta
Kekhawatiran mencipta jarak antarmanusia
Curiga menyandera jiwa
Duka mengabut di sebagian dunia

Apakah sebab engkau corona?
Kelindan warna senja kala ramadan tak lagi jadi surga bermain bagi anak-anak kita
Gaduh petasan hanya dongeng belaka
Derap kaki nan riang berlarian menuju musala tinggal kenangan semata
Kenangan yang jadi candu kerinduan sebab ramadan sudah tak seperti biasanya

Walau demikian,
Kudekap erat ramadan
Sebab berkahnya adalah cahaya kehidupan

Pangkah, 25 April 2020

Kelindan Ramadan

hujan bulan ini mereda
suhu dingin tak berangin
kristal es menggantung di udara
lalu, dari kaki langit, muncul pilar cahaya
sebagai penanda ramadan tiba
ramadan ialah keberkahan
sebab pintu nirwana dibuka, neraka sirna
ampunan dibentang seluas-luasnya
pahala serupa bonus buruan manusia
lampu penghidupan bertandang dari mana saja

ramadan serupa kebajikan bagi insan khalifah
dari dermawan tua dengan secangkir kopi manis untuk dhuafa
borjuis yang tiba-tiba mendermakan separuh hartanya kepada rakyat jelata
atau kaum jet set yang berbondong-bondong menanggalkan kemewahannya

ramadan, bisa jadi sebuah keriangan
sebab anak-anak senang bermain sewaktu terang bulan
berlarian di jalan-jalan kampung sambil bergandeng tangan
meledakkan gelas bekas air mineral diselingi gurauan
menanti tarawih dengan selawatan
serta merapal ayat-ayat Alquran hingga larut malam

jadi,
apa kau siap memaknai bulan suci ini?
sebab ramadan tak hanya soal menahan lapar dan dahaga
tak hanya tentang menafikan kesucian diri sementara kau masih menunda
membunuh ketakaburan, kedengkian, kesombongan
dan noda-noda lain yang mengabut di hati

barangkali
dengan sedikit bersabar mengekang hasrat
kau bisa menatap cahaya
menghirup wewangi ramadan
merasai kesejukan
menekan sujud
meyakini kebenaran akan karunia Tuhan

Pangkah, 25 April 2020

Suatu Isyarat (Mengenang gempa padang)


Ada sesuatu
Yang perlahan melesat ke ujung tangan
Diam-diam memerah dan memanas
Saat tak lagi bersimbah pada porosnya

Ada sesuatu
Yang rasanya mulai meragukan
Tatkala memuntahkan isinya

Ada sesuatu
Yang pelik dan lara
Melengkingkan nyanyiannya
Dan menyumbat pori-pori hati

Lihatlah,
Betapa tanah yang terpijak kini rapuh

Sampah memompa limbah
Limbah memompa panas
Panas menyedot iklim
Iklim memancing lempeng
Lempeng menggeser kerak bumi
Mata telah buta melihat isyarat
Dia murka
Dia letih dengan segala laku kita
Dia menegur dengan firman-Nya
Allah
Jiwa - jiwa bukanlah kristal yang indah
Allah
Ampunkanlah kami
Atas nama ruh yang tersedot paksa
dari pusara kehidupan

Ada sesuatu
yang menggoncang seluruh tubuh
dan tak mampu menegakkan kaki
menguaplah aliran darah

Kamis, 14 Mei 2020

Melati dalam Lipatan Ingatan

Kukatakan sudah, usah kau untai lagi melati itu. Tak akan pernah tercium wanginya. Meski kau dekatkan, melati hanya helaian mahkota yang kan pupus jua. Mending kau tanam lagi, tapi jangan untukku.

Kukatakan cukup, tak perlu kau pasang melati di rambutku. Itu cuma imaji lampau atau dongeng usang tentang belati pangeran yang tertinggal di sini, di dekat pendopo. Saat kau pernah tumpahkan satu keranjang melati.

Kukatakan lepas, biarkan melati bertumbuh di padang baru. Usah kau sesali, bila dulu melati tak berbunga di ranah semestinya, bila dulu tak kau kunci pesonanya. Sebab, semua adalah kehendak semesta.

Lalu …
Denyut waktu beranjak …
Kutemukan kau di sudut kota yang retak; pada dinding-dinding rindu yang sesak; dalam jantung berdetak.
Tetapi tak ada kata
ataupun tangkai melati di kornea
Entah aku
Entah kau
Tak juga berhenti menjelmakan hujan yang terus berjatuhan
menghujam sisa-sisa melati di lipatan ingatan

Kamis, 08 November 2018

Separuh Hati yang Masih Tertinggal di Lembar Kertas Itu

Lembar kertas itu; masih saja kau genggam. Bahkan, enggan kau lepas. Atau mungkin kau hanguskan di perapian. 

Gambar terkaitKutanya mengapa; katamu : Ini satu-satunya milikmu.

Lembar kertas itu; masih saja kau belai. Kau cinta. Layaknya kekasih sejati yang tak pernah kau benci.

Kutanya mengapa; katamu : Ini kenanganmu.

Lembar kertas itu; masih saja kau sayang. Tapi tak pernah kau kemas dalam buku. Kau terus menatapinya; meskipun ia abaikan tatapmu.

Kutanya mengapa; katamu : Suatu hari kamu membutuhkannya.

Lembar kertas itu; masih saja kau selimuti. Terus kau hangatkan dengan tubuh yang mulai membeku.

Kutanya mengapa; katamu : Ini setengah hatimu.

Lalu,

Angin datang; menyibak kabut; menghalau pepohonan yang dulu menutupi pandangan. Katamu : Aku akan menjaganya untukmu.

Senin, 06 Agustus 2018

Gelombang yang Tiba-Tiba Mengempas Wajahku

Laut... yang kutatapi, tiba-tiba bergerak. Perlahan ayunkan gulungan ombak. Lalu, empaskan separuh wajahku dengan airnya.

Katakan bagaimana caranya aku teriak. Sebab titik air itu memaksa masuk ke kornea mataku.

Katakan bagaimana aku bisa keringkan tetesan gelombang di pipiku. Rasanya begitu perih; seakan kenai garis luka di mukaku.

Katakan bagaimana hentikan hentakannya yang kian kuat. Karena jemariku mulai lemah menahan tirta amarta.

Katakan saja, apa pun itu, ucapkan. Paling tidak, agar gelombang tak lagi berderak.

Sabtu, 17 Maret 2018

It's my story--part 1


Aku tak pernah lupa, tak akan pernah... bahwa inilah asalku. Mereka seperti lilin seribu cahaya, selalu terang, meski di sekelilingnya menggelap.
Mereka tak pernah menganggapku berbeda... 



Walaupun sebenarnya, aku punya jalan yang berbeda untuk menjadi orang luar biasa.


Hingga aku menemukan sosok-sosok ini. Individu yang unik, berbakat, dan tentu saja mencintai negerinya. Apa kabarnya kalian?


Kini, mereka telah menjadi dirinya. Menjadi generasi Millenials yang berkarya dan berjuang untuk kemajuan bangsa--dengan caranya masing-masing.

(Palembang, 2014--pascawisuda)
Inilah saat-saat pertama, ketika aku sangat merindukan mereka.
Bila sudah jauh, begini rasanya kehilangan.


Tapi... aku sadar. Inilah perjalanan hidup. Harus bergerak maju ke depan.





Kamis, 01 Maret 2018

Berdamai dengan Masa Lalu

Percayakah? Tidak satu pun kisah percintaan di dunia ini yang sempurna. Pasti ada celah hitam di dalamnya. Kisah cinta yang selalu mulus jalannya hanya ada di negeri dongeng. Bahkan, seseorang yang tampak setegar karang, sebenarnya nyaris rapuh diterjang ombak. Tapi, dia terus bangkit dan meyakini, Tuhan sedang mendidiknya agar lebih dewasa.

Jika hati tidak pernah kecewa, kita tidak akan pernah belajar menjadi kuat. Jika hidup bebas dari masalah, kita tidak akan pernah belajar sabar. Jika kenyataan selalu sesuai keinginan, kita tidak akan pernah menjadi manusia yang lebih baik.

Kadang-kadang, kita harus “ditampar” supaya sadar. Semestinya kita bangga ketika bisa melewati semua rintangan yang ada. Artinya, derajatmu telah meningkat satu tangga. Jika hati sudah tak tahu lagi caranya mencintai, minimal kamu memahami bahwa hidup itu mengabdi dan berbuat baik. Mungkin, kelak saat dilahirkan kembali, kamu menjadi orang yang berbudi pekerti dan dilimpahkan kenikmatan lebih dari saat ini.

Sabar dan bersabarlah... Apabila tidak mampu bersabar, tabahkanlah... Berdamailah dengan masa lalu, niscaya kemenangan akan datang.

Sabtu, 23 April 2016

Anomali

Menelaah gerimis dari kaca mobil, 
seolah mengeja perjalanan satu per satu.
Bagaimana air dapat menguncup dalam prisma, lantas membiaskan seribu cahaya.

Ia mengapung di horison, mengukuhkan hitam tatkala matahari menyaput sinarnya.
Terkadang ia memerah, membiru, menguning, menghijau, mengelokan jingga, kemudian mempercantik ungu.

Dan saat segalanya memutih, ada jutaan meteorit melesat ke dasar hati.
Mungkin, itu badai atau hanya bayangan yang tertangkap tanpa sengaja....

Pontianak, 2013

Minggu, 10 April 2016

Sungai Musi, Surga Kecil yang Jatuh ke Bumi

Ini cerita saya, tatkala menjalani kehidupan empat bulan di Kota Palembang. Kota yang tersohor dengan Jembatan Ampera dan empek-empeknya. Tak hanya menyisakan butiran sejarah kemasyhuran Nusantara, tetapi juga menawarkan seribu keindahan. Dan saya pun terpesona dengan ketenangan di sebuah tempat bernama, Sungai Musi.

Sepintas, tidak ada yang istimewa dari Sungai Musi. Definisinya sama selayaknya sebuah sungai. Ada air, hulu, hilir, hingga rimbunan flora di tepiannya. Namun, di mata saya, Sungai Musi adalah surga kecil yang jatuh ke bumi. Saya merasakan jantung-jantung berdetak di sini. Embusan nafas terdengar jelas dari dasar bumi. Sepertinya, ketika aliran Sungai Musi berhenti, tidak ada kehidupan lagi.

Ada banyak cara untuk menikmati eloknya Musi. Speed boat, perahu, rakit, atau kapal wisata akan mengantarkan Anda menelusuri setiap jengkal kelokan Sungai Musi. Jika Anda berwisata di siang hari, pemandangan rumah rakit, Pulau Kemaro, Masjid Lawang Kidul, Masjid Ki Marogan, Bagus Kuning, Kampung Kapitan, dan Jembatan Ampera, terlihat amat jelas. Kecantikan Sungai Musi kian tampak saat malam tiba. Anda bisa menyaksikan kilauan lampu-lampu di Jembatan Ampera. Tampilannya bak jembatan di Kota London; tidak kalah cantiknya.

Sungai Musi, bagi saya, lebih dari sekadar tempat wisata. Sungai Musi adalah inspirasi. Ada sebait kisah telah tertinggal di sana. Kisah yang kandas pada akhirnya. Juga melahirkan sebuah puisi....

Ada yang kurindukan, entah sampai kapan. Sebentuk udara yang bergerak-gerak di atas kebeningan musi, tatkala itu ekor mataku mendapati langkahmu. Tegas, melelehkan sebutir es yang lama sekali membeku di hati.

Aku ingin sekali lagi menukarkan waktu untuk mendengarmu mengucap namaku. Tetapi dongeng Cinderella selalu mendekapkan ketakutan teramat dalam, sebab dongeng tak lebih dari sekedar imaji tentang tentang kastil dan pangeran tampan berkuda putih.

Hingga gemertak air langit bergemuruh di atap rumah, kornea mataku masih saja memutar liar dan jauh, episode terakhir kita di hantaran Ampera.

Senin, 04 April 2016

Sang Sarjana

Sartika begitu riang saat toga disematkan di atas kepalanya. Hari itu dia cantik rupawan. Polesan make up membuat Sartika makin cemerlang. Ditambah lagi Sartika yang lulus dengan predikat sangat memuaskan. Kecerdasannya terpancar begitu saja dari sorot matanya.

Barangkali Sartika harus lebih bangga. Sebab dia mendapat predikat lulusan plus-plus. Prestasinya sebagai aktivis kampus patut diacungi jempol. Dia adalah salah satu mahasiswa aktivis yang sering demo di simpang lima atau di depan gedung DPRD. Bahkan beberapa waktu sebelum lulus, Sartika menyempatkan diri ikut unjuk rasa ‘menurunkan harga BBM’. Untung Sartika perempuan, jadi tidak ikut-ikutan diseret ke kantor polisi.

Suara gendingan di ruang wisudaan menggetarkan hati Sartika. Usailah sudah perjuangan dia di dunia mahasiswa. Langkahnya anggun nan kemayu menuju tempat prosesi. Ayah dan ibunda Sartika terlihat begitu gembira. Bahagia karena berhasil menjadikan putri tunggalnya menjadi sarjana muda. Tapi, di balik semua itu, tidak ada yang tahu, bagaimana rangkaian perjalanan Sartika sebelumnya.

***

Matahari setengah terbenam. Sartika masih sibuk mondar-mandir di gedung mahasiswa. Menunggu seseorang datang. Padahal teman-temannya sudah menyuruhnya memulai rapat. Mereka gelisah. Ingin rapat segera usai. Setelah maghrib akan ada postes mendadak di laboratorium.

Beberapa di antara mereka protes pada Sartika. Namun, Sartika tak menggubris. Dia tetap menunggu satu orang yang dia anggap paling penting.

“Kau ini, mulai sajalah.” Seseorang mulai geram. “Dia itu kan selalu terlambat. Bukan hanya dia yang punya kepentingan. Kami juga.

” Sartika mendengus. “Iya, sabar. Tak hanya kau yang mau postes, aku juga.” Ujarnya kesal.

Sesaat berlalu. Seorang pemuda datang tergopoh-gopoh. Dia meminta maaf pada Sartika. Berkali-kali. Sayangnya, Sartika tetap memasang tampang masam. Pemuda itu telah menjelaskan alasannya datang terlambat. Ibunya mendadak sakit. Dia tak bisa meninggalkan begitu saja.

Ah, Sartika. Masih saja cemberut. Tak urung, yang lain pun jadi korban kekesalan Sartika ketika rapat. Semua jadi berantakan. Rapat tidak ada hasil final. Postes malam itu semuanya terlambat. Nyaris saja dibatalkan.

***

Pemuda yang ditunggu Sartika datang. Tanpa dendam. Wajahnya sumringah melihat Sartika dibalut kebaya hijau. Cantik. Begitu pikir sang pemuda.

Sartika menatap pemuda itu penuh rasa bersalah. Pemuda yang selalu jadi sasaran amarahnya. Selalu saja dimaki-makinya. Pemuda dengan sorot mata penuh kesabaran.

Mereka berfoto sejenak. Mengabadikan kenangan terindah Sartika. Tak ada beban apapun di hati pemuda itu. meskipun seharusnya sekarang dia juga lulus. Baginya, kebahagiaan Sartika adalah segalanya. Tak peduli walaupun dia seringkali pengorbankan kepentingan bahkan cintanya untuk Sartika.

“Akhirnya kau jadi sarjana.”

Sartika tersenyum, ”Hei, kau seharusnya bersamaku sekarang. Kenapa kau…”

“Aku masih ingin di sini.” Potongnya segera.

“Kalau saja waktu itu…”

“Sudahlah.. tak perlu kau pikirkan. Anggap saja bagian dari perjuangan kita.” Dia tersenyum. Manis sekali. Hati Sartika tergetar.

***

Telepon berdering. Pemuda berkaos merah nampak risau. Gadis di sampingnya memandang penuh curiga.

“Sartika?” tanya si gadis dengan tampang muram. Pemuda mengangguk. Meminta izin untuk mengangkat telepon. Gadis mengangguk, berat.

Di seberang terdengar suara kalut Sartika. Pemuda kian resah. Semenit berlalu. Pemuda itu menutup teleponnya.

“Aku harus pergi.” Katanya.

“Apa?”

“Sartika membutuhkanku.”

“Lalu aku?” protesnya.

“Kita bisa bertemu lagi besok.”

“Sartika atau aku yang kekasihmu, hah? Lagipula satu jam lagi kau harus bertemu…”

“Dosen pembimbingku gampang.” Pemuda sudah berdiri. Segera membayar sejumlah uang pada ibu kantin. Kemudian pergi meninggalkan si gadis.

***

Sartika terdesak. Dia tidak tahu bagaimana harus keluar dari situasi ini. Tak menyangka presiden universitas akan digelandang ke kantor polisi. Dan wakilnya diculik sekelompok orang tak dikenal. Sartika sendiri terus menerus didesak mengambil keputusan. Pihak mana yang akan dia bela. Pemilihan raya tahun ini pecah tiga kubu. Satu kubu netral, satu kubu putih dan satu lagi kubu merah.

Sementara Sartika dilema. Wakil presiden yang sangat dia cintai dilindungi orang-orang kubu putih. Sedangkan Sartika, berasal dari kubu merah. Sartika tidak suka kubu putih karena ditunggangi kepentingan politik luar. Konon salah satu partai besar di negeri ini membiayai seluruh kampanye kubu putih. Jika Sartika memilih netral, dia akan jadi pengkhianat sekaligus penjilat.

Waktu Sartika tinggal sedikit lagi. Dia satu-satunya yang belum mengambil keputusan. Sartika benar-benar dilanda bimbang. Di satu sisi mereka mulai mengeluarkan ancaman. Jika Sartika tak juga bicara, selamanya wakil presiden akan disekap.

“Sartika!” suara itu melengking. Pemuda yang ditunggu Sartika datang. Penyelamat sejati.

***

Sebulan setelah wisuda, Sartika masih terkukung di rumah. Sudah sembilan perusahaan menolak dia. Sartika jatuh di level tes yang sama. Tes Pauli.

Entah apa yang salah ketika Sartika menjawab semua hitungan dalam tes itu. Sepertinya Sartika telah menjawab benar. Bahkan mengerjakan sempurna. Dua lembar tes pauli habis dilahapnya.

Dari perusahaan ke perusahaan dia sambangi. Sartika menenteng setia stopmap plastik yang berisi lamaran kerja. Tapi, rasanya benar-benar sulit. Sartika terus tertolak.

Pada detik kesembilan kegagalan Sartika, berderailah airmatanya. Setiap tetes yang jatuh, setiap itu pula pesan singkat terkirim ke ponsel sang pemuda. Sartika mengadu. Mengeluh. Protes. Tidak terima pada takdir.

Apa yang kurang dari Sartika? Cantik. Pintar. Mantan aktivis dengan segudang pengalaman dan prestasi. Indeks prestasi cumlaude. Bagaimana mungkin sembilan perusahaan menolaknya? Apalagi karena tes pauli yang menurut Sartika hanya hitungan anak SD.

Pemuda itu menghela napas saat membaca pesan singkat Sartika. Dia merasakan sesak menggelambir di dadanya. Tak bisa lagi berbuat apa-apa seperti waktu Sartika masih jadi mahasiswa. Tidak ada.

***

Serambi kampus sepi. Hanya ada mereka berdua. Menikmati kelegaan pasca penyekapan.

“Terima kasih. Kalau kau tak datang, entah apa jadinya.” Ucap Sartika penuh penyesalan.

“Ah, Sartika. Andai kau mau sedikit saja mendengarkan aku. Wakil presiden hanya memanfaatkanmu. Kau buta kah sebab itu?”

“Maaf.”

“Sudahlah…”

Alarm mendadak berbunyi. Pemuda terperanjat melihat ponselnya.

“Astaga!” pekiknya.

“Ada apa?”

“Aku harus pergi. Satu jam lalu seharusnya aku menghadap dosenku.”

“Lalu? Apa skripsimu tertunda?”

Dia menyentuh bahu Sartika. “Dengar, apapun yang terjadi, aku akan tetap mendampingimu saat wisuda.”

***

Tatap mata nyaris putus asa. Lidahnya terlalu kelu untuk terus bercerita. Terlalu menyedihkan.

Padahal pemuda masih setia mendengarkan setiap detil kata yang keluar dari bibir Sartika. Namun, sekarang, Sartika membisu. Kisah kegagalan itu mencabik-cabik relung hatinya.

Yang paling menyakitkan adalah perusahaan kesembilan. Sartika sudah melewati enam tahap dari tujuh tahap. Malang, di tahap ketujuh, Sartika dinyatakan gagal. Tidak diterima. Sartika melihat jutaan pyramid yang dia bangun runtuh begitu saja. Dan selalu, sang pemuda lah sasaran kekecewaannya.

“Sartika, kau tahu? Apa yang membuat batu besar bisa pecah setelah dipukul seratus kali?.” Katanya seraya mengetikan tulisan-tulisan dosen di dalam skripsinya.

Sartika menggeleng di balik percakapan telepon. “Mungkin pukulan ke seratus itu yang paling keras, jadi batunya hancur.”

Tangan pemuda tetap konsentrasi mengetik. Sementara pikirannya mencari akal untuk menenangkan Sartika. “Bukan karena itu.” dia menghentikan jemarinya yang mengetik, lalu menghela napas. “Batu itu hancur karena 99 pukulan sebelumnya.” Hening. Lantas semua hening. Airmata Sartika kembali berderai. Kali ini bukan karena kecewa.

***


Tempat yang Dulu Kau Sebut Rumah

Tempat (yang Dulu) Kau Sebut Rumah

Tumpukan bata di sudut jalan mulai berlumut tak ada angin berembus lewat jendela setiap pagi pintu berderit hanya sekali tatkala penja...