Selasa, 25 Oktober 2011

Maret

Tungku yang memanas itu masih terasa
ketika maret menggulung kisahku
mengubur asa
mencabik rasa

Entah seberapa besar sayatan
luka ini kian menganga
aku pun terdampar dalam sepi yang tiba-tiba
dalam gelap yang tak kuinginkan

Kelam yang semakin kelam
maret melibasku dengan tebasan pedang perkara
diamku menahan pilu
merajut benang-benang kepasrahan

Maret kini telah pergi
dan ada yang kembali
tapi bukan yang dulu lagi...

Mengenag 20 Maret 2009

3 tahun yang lalu itu masih 'ada'

Tak mudah ku temukan hal yang sama seperti dulu,,saat semua masih di sini di dekat hatiku...tak ada yang bisa menggantinya.
Entah seberapa dalam, sampai-sampai luka ini cepat sekali sembuh dan rasa ini selalu ada. Sekarang di sana, dia bertahta. Aku tahu, dia dan kehidupannya yang sangat cemerlang jauh di 'timur seberang'.
Mungkin sesal dan kecewa memang ada, bahkan perih terus menikam hati. Namun, ketulusan ini masih.... untukmu, selamanya. Jika kita tak bisa bersama saat ini, maka cinta akan menyatukan kita di masa depan nanti.

Selasa, 18 Oktober 2011

Kalau boleh bicara politik...

Ini aku tulis ketika aku sedang sibuk mengurusi diskusi politik Jum'at nanti (21/10), ketika hujan rintik-rintik datang tiba-tiba...
Kata politik, tak ada kawan abadi, tapi bagiku ada! Kata politik, tak ada lawan abadi, ya kalau yang ini aku setuju.
Memang benar...politik adalah barang yang paling kotor di dunia ini, namun jika sudah tak mampu menghindar maka terjunlah.

Jumat, 14 Oktober 2011

Inilah hati seorang aktivis yang terdesak politik

Siang hari di kampus begitu mencekam...Tak ada yang asing di sini namun semuanya nampak mengerikan. Kecurigaan terekam di mata-mata siapa saja yang melalu jalanan ini. Serta merta ketakutan mencabik-cabik hati hingga ke akarnya. Ada pilu mengiris saat rasa-rasa tergadaikan seolah sebagai pembayaran.
Huuuummm.....entah kapan akan berlalu, pergolakan abu-abu ini. Ingin terbang melesat tinggi tetapi sayap telah dipasung di sangkar yang aneh.

Rabu, 05 Oktober 2011

Harapan sebuah usia pemuda

5 oktober 2011

Waktu terus berjalan, tak pernah berhenti berputar. Ia senantiasa menghadirkan berbagai fenomena, peristiwa, tragedi dan cerita. Menumpahkan berjuta rasa, suka, bahagia, duka, nestapa, amarah, kesal, kecewa...namun waktu tetaplah benda mati yang tidak patut disalahkan. Jika ada yang terlewatkan dari kesempatan atau harapan yang tak tersampaikan, itu adalah bagian dari proses kehidupan.
Waktu berbanding lurus dengan usia. Ketika waktu berdetak, maka usiapun kian bertambah. Dan kita semakin dekat dengan kematian. Orang bilang, hanya cinta yang bisa membuat kita bertahan meski rapuh, tetap tegar meski letih dan selalu tersenyum meski hati menangis. Bukan bagaimana waktu itu terlihat indah melainkan apa yang kita kontribusikan untuk diri kita, untuk keluarga, bangsa dan negara karena kita adalah pemuda.

Kawan, waktu, harapan, usia dan pemuda merupakan rangkaian rantai yang tak boleh lepas. Aku pun adalah bagian dari mereka (pemuda) yang memiliki usia. Ku ingin harapanku sesuai dengan kenyataanku tanpa menafikan sebuah tantangan...semoga... :)

Senin, 26 September 2011

Rasa

Rasa
jadi anomali kehidupan...
menyesak melesak masuk ke lubang hati terdalam
Rasa
luruhkan seribu rasa berapi
nyeri mencerca jantung
menahan pedih
Rasa
sebuah keniscayaan
terselubung menggempur diam-diam
saat sadar dan tak sadar
Rasa
kadang indah
kadang suram
Rasa
bulatan-bulatan pena
yang menari
menggeliat-geliat
mencabik rasa
melengking
menjerit
memberontak
dalm rasa......

Semarang, 26 September 2011

Kamis, 07 Juli 2011

CURHAT KEKASIH

Dear...
aku ingin segera memeluk malam
siang ini terlalu panjang dear...

Dear...
sudi kah mendengarku
sekedar membisikan sebait cinta

Dear...
aku tahu
bebanmu dua kali luas angkasa
kau sendiri dear...

Dear...
tapi aku tahu
kau menginginkan desah suaraku
tatkala gemintang genit memainkan cahaya

Dear...
kau kah itu?
dirimu tanpa ilustrasi
aku melihatmu kini
sebentuk rahasia Illahi...

Semarang, 7 Juli 2011

Senin, 04 Juli 2011

Sajak-sajak Ikhlas

Sekelumit lara yang menggaung kini,
terangkat dari akarnya
menuai jutaan rasa lepas
seolah terbang meletup lewati horison langit
Aku yang mendesah nyeri
dihakimi nurani


Entah sejak kapan
mulai kulihat topan berlutut di bumi
pohon-pohon raksasa merebahkan diri
dan sungai tak meluap lagi
Yang jelas.....
saat ribuan sajak ini kedendangkan
seakan semua memutih
hitam lekang terseok kata
terangkai di relung-relung jiwa
ikhlas.............................................


Semarang, 4 Juli 2011

Pada sebuah harapan

Pada sebuah harapan terpendam
terbitlah biduk cakrawala terang
demi sebuah harapan tersimpan
melabuhkan satu perasaan
tentang sebuah harapan tercatat

Pada sebuah harapan terpendam
dari lantunan doa-doa malam
mencuat ke troposfer
sampai ke tahta Tuhan

Pada sebuah harapan terpendam
terlukislah wajah kelam
namun, ada sebuah harapan terekam
menjelmakan kesucian

Pada sebuah harapan terpendam
pada hari-hari yang aneh
detik berkumpul menit
menit berkumpul jam
jam berkumpul hari
hari berkumpul minggu
dan pada hari keenam belas
sebuah harapan bersinar....................

Semarang, 4 juli 2011
untuk orang-orang yang kucintai, jangan menyerah!

HILANG

Dalam hilang menarilah kerinduan
hilang yang ada setiap detik terus berjalan
hilang selalu nampak di permukaan

Kusentuh hilang dengan tataran kalbu
terkadang memang hilang bahkan terus menghilang
tetapi pernah jua hilang dan kembali

ia hilang
mendekapku di kediaman waktu
dari kehidupan tak tertebak
mencintai hilang penuh harap...

ia hilang
gemericik angin antarkan salam dedaunan nun jauh
dan tetesan embun menyanyikan lagu misteri
bicara pada yang hilang

ia lantas hilang
kemudian kembali
menghilang lagi

Semarang, 4 Juli 2011

Sabtu, 02 Juli 2011

BERHENTI EKSPOR SAPI KE INDONESIA, AUSTRALIA MENGAKU RUGI

(Semarang) Beberapa waktu lalu, Australia mengancam akan menghentikan ekspor sapi Australia ke Indonesia. Sekarang, ekspornya benar-benar dihentikan. Kasus yang sempat menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat Indonesia. Tapi tidak demikian dengan para peternak yang merasa diuntungkan dengan adanya penghentian ekspor tersebut. Peluang keuntungan besar justru terbuka untuk para peternak lokal.
Memang, pengusaha kita juga dirugikan atas kasus ini, tetapi kerugian itu tidak sebanding kerugian yang dialami Australia. Sebuah artikel di situs inilah.com memberitakan Australia mengalami kerugian sekitar AUD1 Miliar. Terbukti dengan adanya kucuran dana dari Pemerintah Australia kepada para peternak sapi hingga AUD30 juta atau setara dengan US$32 juta sekitar Rp288 miliar.

"Di sana rugi mencapai ratusan juta dolar sejak distop ke Indonesia," kata Menteri Pertanian Negara Bagian Australia Barat Terry Redman usai menemui Menteri Pertanian Indonesia Suswono di kantor Kementan Ragunan, Jakarta, Senin (20/6/2011).

Negara bagian Australia mengharapkan dapat mengekspor lagi ke RPH Indonesia. Namun, semua keputusan bergantung pada pemerintah federal Australia. Pasalnya, pemerintah Australia menerapkan standar internasional RPH yang dijadikan alasan penghentian ekspor ke Indonesia.

Tempat yang Dulu Kau Sebut Rumah

Tempat (yang Dulu) Kau Sebut Rumah

Tumpukan bata di sudut jalan mulai berlumut tak ada angin berembus lewat jendela setiap pagi pintu berderit hanya sekali tatkala penja...