Senin, 30 September 2013

Secarik surat untuk sebuah nama

Kulihat kau dengan hati, dalam kecupan hangat, dan sepucuk doa yang kutitipkan pada Tuhan. Kupandang kau dengan mata terpejam, dalam senyuman cantik, dan bisikan lagu di jantungku. Entah bagaimana rupa merah kulukiskan di dindingmu, segalanya teramat elok nan rupawan, bahkan tatkala nafas ini terasa terhenti, kau masih saja menyematkan warna pelangi. Kini, biarkan aku menyentuh telapak kakimu, tetap hidup yang tak akan kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anomali (4)

berjalan menyusuri belantara tanpa pernah peduli marabahaya tidak kah kau ingin bertanya apa aku baik-baik saja dunia ini fana manusia hanya...