Senin, 11 Juni 2012

Mata Kekasih

Matanya mata kekasih. Tajam, menusuk dalam. Matanya mata kekasih. Seperti ratusan elang mengepakkan sayap, membawa kabar-kabar cakrawala. Matanya, setetes embun, menaklukan kerasnya bebatuan. Duhai gurita malam, sungguh gelap amatlah terang. Desakan aroma matanya menggerakkan hati siapa saja. Apakah bintang-bintang benar bersangkar di matanya, sebab matanya, mata begitu indah di mataku? Ataukah aku yang sedang sakau? Sampai bait terakhir syair ini… matanya, tetap mata kekasih… Semarang, 18 Mei 2012

Anomali (4)

berjalan menyusuri belantara tanpa pernah peduli marabahaya tidak kah kau ingin bertanya apa aku baik-baik saja dunia ini fana manusia hanya...