Kamis, 14 Mei 2020

Melati dalam Lipatan Ingatan

Kukatakan sudah, usah kau untai lagi melati itu. Tak akan pernah tercium wanginya. Meski kau dekatkan, melati hanya helaian mahkota yang kan pupus jua. Mending kau tanam lagi, tapi jangan untukku.

Kukatakan cukup, tak perlu kau pasang melati di rambutku. Itu cuma imaji lampau atau dongeng usang tentang belati pangeran yang tertinggal di sini, di dekat pendopo. Saat kau pernah tumpahkan satu keranjang melati.

Kukatakan lepas, biarkan melati bertumbuh di padang baru. Usah kau sesali, bila dulu melati tak berbunga di ranah semestinya, bila dulu tak kau kunci pesonanya. Sebab, semua adalah kehendak semesta.

Lalu …
Denyut waktu beranjak …
Kutemukan kau di sudut kota yang retak; pada dinding-dinding rindu yang sesak; dalam jantung berdetak.
Tetapi tak ada kata
ataupun tangkai melati di kornea
Entah aku
Entah kau
Tak juga berhenti menjelmakan hujan yang terus berjatuhan
menghujam sisa-sisa melati di lipatan ingatan

Kamis, 08 November 2018

Separuh Hati yang Masih Tertinggal di Lembar Kertas Itu

Lembar kertas itu; masih saja kau genggam. Bahkan, enggan kau lepas. Atau mungkin kau hanguskan di perapian. 

Gambar terkaitKutanya mengapa; katamu : Ini satu-satunya milikmu.

Lembar kertas itu; masih saja kau belai. Kau cinta. Layaknya kekasih sejati yang tak pernah kau benci.

Kutanya mengapa; katamu : Ini kenanganmu.

Lembar kertas itu; masih saja kau sayang. Tapi tak pernah kau kemas dalam buku. Kau terus menatapinya; meskipun ia abaikan tatapmu.

Kutanya mengapa; katamu : Suatu hari kamu membutuhkannya.

Lembar kertas itu; masih saja kau selimuti. Terus kau hangatkan dengan tubuh yang mulai membeku.

Kutanya mengapa; katamu : Ini setengah hatimu.

Lalu,

Angin datang; menyibak kabut; menghalau pepohonan yang dulu menutupi pandangan. Katamu : Aku akan menjaganya untukmu.

Senin, 06 Agustus 2018

Gelombang yang Tiba-Tiba Mengempas Wajahku

Laut... yang kutatapi, tiba-tiba bergerak. Perlahan ayunkan gulungan ombak. Lalu, empaskan separuh wajahku dengan airnya.

Katakan bagaimana caranya aku teriak. Sebab titik air itu memaksa masuk ke kornea mataku.

Katakan bagaimana aku bisa keringkan tetesan gelombang di pipiku. Rasanya begitu perih; seakan kenai garis luka di mukaku.

Katakan bagaimana hentikan hentakannya yang kian kuat. Karena jemariku mulai lemah menahan tirta amarta.

Katakan saja, apa pun itu, ucapkan. Paling tidak, agar gelombang tak lagi berderak.

Sabtu, 17 Maret 2018

It's my story--part 1


Aku tak pernah lupa, tak akan pernah... bahwa inilah asalku. Mereka seperti lilin seribu cahaya, selalu terang, meski di sekelilingnya menggelap.
Mereka tak pernah menganggapku berbeda... 



Walaupun sebenarnya, aku punya jalan yang berbeda untuk menjadi orang luar biasa.


Hingga aku menemukan sosok-sosok ini. Individu yang unik, berbakat, dan tentu saja mencintai negerinya. Apa kabarnya kalian?


Kini, mereka telah menjadi dirinya. Menjadi generasi Millenials yang berkarya dan berjuang untuk kemajuan bangsa--dengan caranya masing-masing.

(Palembang, 2014--pascawisuda)
Inilah saat-saat pertama, ketika aku sangat merindukan mereka.
Bila sudah jauh, begini rasanya kehilangan.


Tapi... aku sadar. Inilah perjalanan hidup. Harus bergerak maju ke depan.





Kamis, 01 Maret 2018

Berdamai dengan Masa Lalu

Percayakah? Tidak satu pun kisah percintaan di dunia ini yang sempurna. Pasti ada celah hitam di dalamnya. Kisah cinta yang selalu mulus jalannya hanya ada di negeri dongeng. Bahkan, seseorang yang tampak setegar karang, sebenarnya nyaris rapuh diterjang ombak. Tapi, dia terus bangkit dan meyakini, Tuhan sedang mendidiknya agar lebih dewasa.

Jika hati tidak pernah kecewa, kita tidak akan pernah belajar menjadi kuat. Jika hidup bebas dari masalah, kita tidak akan pernah belajar sabar. Jika kenyataan selalu sesuai keinginan, kita tidak akan pernah menjadi manusia yang lebih baik.

Kadang-kadang, kita harus “ditampar” supaya sadar. Semestinya kita bangga ketika bisa melewati semua rintangan yang ada. Artinya, derajatmu telah meningkat satu tangga. Jika hati sudah tak tahu lagi caranya mencintai, minimal kamu memahami bahwa hidup itu mengabdi dan berbuat baik. Mungkin, kelak saat dilahirkan kembali, kamu menjadi orang yang berbudi pekerti dan dilimpahkan kenikmatan lebih dari saat ini.

Sabar dan bersabarlah... Apabila tidak mampu bersabar, tabahkanlah... Berdamailah dengan masa lalu, niscaya kemenangan akan datang.

Sabtu, 23 April 2016

Anomali

Menelaah gerimis dari kaca mobil, 
seolah mengeja perjalanan satu per satu.
Bagaimana air dapat menguncup dalam prisma, lantas membiaskan seribu cahaya.

Ia mengapung di horison, mengukuhkan hitam tatkala matahari menyaput sinarnya.
Terkadang ia memerah, membiru, menguning, menghijau, mengelokan jingga, kemudian mempercantik ungu.

Dan saat segalanya memutih, ada jutaan meteorit melesat ke dasar hati.
Mungkin, itu badai atau hanya bayangan yang tertangkap tanpa sengaja....

Pontianak, 2013

Minggu, 10 April 2016

Sungai Musi, Surga Kecil yang Jatuh ke Bumi

Ini cerita saya, tatkala menjalani kehidupan empat bulan di Kota Palembang. Kota yang tersohor dengan Jembatan Ampera dan empek-empeknya. Tak hanya menyisakan butiran sejarah kemasyhuran Nusantara, tetapi juga menawarkan seribu keindahan. Dan saya pun terpesona dengan ketenangan di sebuah tempat bernama, Sungai Musi.

Sepintas, tidak ada yang istimewa dari Sungai Musi. Definisinya sama selayaknya sebuah sungai. Ada air, hulu, hilir, hingga rimbunan flora di tepiannya. Namun, di mata saya, Sungai Musi adalah surga kecil yang jatuh ke bumi. Saya merasakan jantung-jantung berdetak di sini. Embusan nafas terdengar jelas dari dasar bumi. Sepertinya, ketika aliran Sungai Musi berhenti, tidak ada kehidupan lagi.

Ada banyak cara untuk menikmati eloknya Musi. Speed boat, perahu, rakit, atau kapal wisata akan mengantarkan Anda menelusuri setiap jengkal kelokan Sungai Musi. Jika Anda berwisata di siang hari, pemandangan rumah rakit, Pulau Kemaro, Masjid Lawang Kidul, Masjid Ki Marogan, Bagus Kuning, Kampung Kapitan, dan Jembatan Ampera, terlihat amat jelas. Kecantikan Sungai Musi kian tampak saat malam tiba. Anda bisa menyaksikan kilauan lampu-lampu di Jembatan Ampera. Tampilannya bak jembatan di Kota London; tidak kalah cantiknya.

Sungai Musi, bagi saya, lebih dari sekadar tempat wisata. Sungai Musi adalah inspirasi. Ada sebait kisah telah tertinggal di sana. Kisah yang kandas pada akhirnya. Juga melahirkan sebuah puisi....

Ada yang kurindukan, entah sampai kapan. Sebentuk udara yang bergerak-gerak di atas kebeningan musi, tatkala itu ekor mataku mendapati langkahmu. Tegas, melelehkan sebutir es yang lama sekali membeku di hati.

Aku ingin sekali lagi menukarkan waktu untuk mendengarmu mengucap namaku. Tetapi dongeng Cinderella selalu mendekapkan ketakutan teramat dalam, sebab dongeng tak lebih dari sekedar imaji tentang tentang kastil dan pangeran tampan berkuda putih.

Hingga gemertak air langit bergemuruh di atap rumah, kornea mataku masih saja memutar liar dan jauh, episode terakhir kita di hantaran Ampera.

Senin, 04 April 2016

Sang Sarjana

Sartika begitu riang saat toga disematkan di atas kepalanya. Hari itu dia cantik rupawan. Polesan make up membuat Sartika makin cemerlang. Ditambah lagi Sartika yang lulus dengan predikat sangat memuaskan. Kecerdasannya terpancar begitu saja dari sorot matanya.

Barangkali Sartika harus lebih bangga. Sebab dia mendapat predikat lulusan plus-plus. Prestasinya sebagai aktivis kampus patut diacungi jempol. Dia adalah salah satu mahasiswa aktivis yang sering demo di simpang lima atau di depan gedung DPRD. Bahkan beberapa waktu sebelum lulus, Sartika menyempatkan diri ikut unjuk rasa ‘menurunkan harga BBM’. Untung Sartika perempuan, jadi tidak ikut-ikutan diseret ke kantor polisi.

Suara gendingan di ruang wisudaan menggetarkan hati Sartika. Usailah sudah perjuangan dia di dunia mahasiswa. Langkahnya anggun nan kemayu menuju tempat prosesi. Ayah dan ibunda Sartika terlihat begitu gembira. Bahagia karena berhasil menjadikan putri tunggalnya menjadi sarjana muda. Tapi, di balik semua itu, tidak ada yang tahu, bagaimana rangkaian perjalanan Sartika sebelumnya.

***

Matahari setengah terbenam. Sartika masih sibuk mondar-mandir di gedung mahasiswa. Menunggu seseorang datang. Padahal teman-temannya sudah menyuruhnya memulai rapat. Mereka gelisah. Ingin rapat segera usai. Setelah maghrib akan ada postes mendadak di laboratorium.

Beberapa di antara mereka protes pada Sartika. Namun, Sartika tak menggubris. Dia tetap menunggu satu orang yang dia anggap paling penting.

“Kau ini, mulai sajalah.” Seseorang mulai geram. “Dia itu kan selalu terlambat. Bukan hanya dia yang punya kepentingan. Kami juga.

” Sartika mendengus. “Iya, sabar. Tak hanya kau yang mau postes, aku juga.” Ujarnya kesal.

Sesaat berlalu. Seorang pemuda datang tergopoh-gopoh. Dia meminta maaf pada Sartika. Berkali-kali. Sayangnya, Sartika tetap memasang tampang masam. Pemuda itu telah menjelaskan alasannya datang terlambat. Ibunya mendadak sakit. Dia tak bisa meninggalkan begitu saja.

Ah, Sartika. Masih saja cemberut. Tak urung, yang lain pun jadi korban kekesalan Sartika ketika rapat. Semua jadi berantakan. Rapat tidak ada hasil final. Postes malam itu semuanya terlambat. Nyaris saja dibatalkan.

***

Pemuda yang ditunggu Sartika datang. Tanpa dendam. Wajahnya sumringah melihat Sartika dibalut kebaya hijau. Cantik. Begitu pikir sang pemuda.

Sartika menatap pemuda itu penuh rasa bersalah. Pemuda yang selalu jadi sasaran amarahnya. Selalu saja dimaki-makinya. Pemuda dengan sorot mata penuh kesabaran.

Mereka berfoto sejenak. Mengabadikan kenangan terindah Sartika. Tak ada beban apapun di hati pemuda itu. meskipun seharusnya sekarang dia juga lulus. Baginya, kebahagiaan Sartika adalah segalanya. Tak peduli walaupun dia seringkali pengorbankan kepentingan bahkan cintanya untuk Sartika.

“Akhirnya kau jadi sarjana.”

Sartika tersenyum, ”Hei, kau seharusnya bersamaku sekarang. Kenapa kau…”

“Aku masih ingin di sini.” Potongnya segera.

“Kalau saja waktu itu…”

“Sudahlah.. tak perlu kau pikirkan. Anggap saja bagian dari perjuangan kita.” Dia tersenyum. Manis sekali. Hati Sartika tergetar.

***

Telepon berdering. Pemuda berkaos merah nampak risau. Gadis di sampingnya memandang penuh curiga.

“Sartika?” tanya si gadis dengan tampang muram. Pemuda mengangguk. Meminta izin untuk mengangkat telepon. Gadis mengangguk, berat.

Di seberang terdengar suara kalut Sartika. Pemuda kian resah. Semenit berlalu. Pemuda itu menutup teleponnya.

“Aku harus pergi.” Katanya.

“Apa?”

“Sartika membutuhkanku.”

“Lalu aku?” protesnya.

“Kita bisa bertemu lagi besok.”

“Sartika atau aku yang kekasihmu, hah? Lagipula satu jam lagi kau harus bertemu…”

“Dosen pembimbingku gampang.” Pemuda sudah berdiri. Segera membayar sejumlah uang pada ibu kantin. Kemudian pergi meninggalkan si gadis.

***

Sartika terdesak. Dia tidak tahu bagaimana harus keluar dari situasi ini. Tak menyangka presiden universitas akan digelandang ke kantor polisi. Dan wakilnya diculik sekelompok orang tak dikenal. Sartika sendiri terus menerus didesak mengambil keputusan. Pihak mana yang akan dia bela. Pemilihan raya tahun ini pecah tiga kubu. Satu kubu netral, satu kubu putih dan satu lagi kubu merah.

Sementara Sartika dilema. Wakil presiden yang sangat dia cintai dilindungi orang-orang kubu putih. Sedangkan Sartika, berasal dari kubu merah. Sartika tidak suka kubu putih karena ditunggangi kepentingan politik luar. Konon salah satu partai besar di negeri ini membiayai seluruh kampanye kubu putih. Jika Sartika memilih netral, dia akan jadi pengkhianat sekaligus penjilat.

Waktu Sartika tinggal sedikit lagi. Dia satu-satunya yang belum mengambil keputusan. Sartika benar-benar dilanda bimbang. Di satu sisi mereka mulai mengeluarkan ancaman. Jika Sartika tak juga bicara, selamanya wakil presiden akan disekap.

“Sartika!” suara itu melengking. Pemuda yang ditunggu Sartika datang. Penyelamat sejati.

***

Sebulan setelah wisuda, Sartika masih terkukung di rumah. Sudah sembilan perusahaan menolak dia. Sartika jatuh di level tes yang sama. Tes Pauli.

Entah apa yang salah ketika Sartika menjawab semua hitungan dalam tes itu. Sepertinya Sartika telah menjawab benar. Bahkan mengerjakan sempurna. Dua lembar tes pauli habis dilahapnya.

Dari perusahaan ke perusahaan dia sambangi. Sartika menenteng setia stopmap plastik yang berisi lamaran kerja. Tapi, rasanya benar-benar sulit. Sartika terus tertolak.

Pada detik kesembilan kegagalan Sartika, berderailah airmatanya. Setiap tetes yang jatuh, setiap itu pula pesan singkat terkirim ke ponsel sang pemuda. Sartika mengadu. Mengeluh. Protes. Tidak terima pada takdir.

Apa yang kurang dari Sartika? Cantik. Pintar. Mantan aktivis dengan segudang pengalaman dan prestasi. Indeks prestasi cumlaude. Bagaimana mungkin sembilan perusahaan menolaknya? Apalagi karena tes pauli yang menurut Sartika hanya hitungan anak SD.

Pemuda itu menghela napas saat membaca pesan singkat Sartika. Dia merasakan sesak menggelambir di dadanya. Tak bisa lagi berbuat apa-apa seperti waktu Sartika masih jadi mahasiswa. Tidak ada.

***

Serambi kampus sepi. Hanya ada mereka berdua. Menikmati kelegaan pasca penyekapan.

“Terima kasih. Kalau kau tak datang, entah apa jadinya.” Ucap Sartika penuh penyesalan.

“Ah, Sartika. Andai kau mau sedikit saja mendengarkan aku. Wakil presiden hanya memanfaatkanmu. Kau buta kah sebab itu?”

“Maaf.”

“Sudahlah…”

Alarm mendadak berbunyi. Pemuda terperanjat melihat ponselnya.

“Astaga!” pekiknya.

“Ada apa?”

“Aku harus pergi. Satu jam lalu seharusnya aku menghadap dosenku.”

“Lalu? Apa skripsimu tertunda?”

Dia menyentuh bahu Sartika. “Dengar, apapun yang terjadi, aku akan tetap mendampingimu saat wisuda.”

***

Tatap mata nyaris putus asa. Lidahnya terlalu kelu untuk terus bercerita. Terlalu menyedihkan.

Padahal pemuda masih setia mendengarkan setiap detil kata yang keluar dari bibir Sartika. Namun, sekarang, Sartika membisu. Kisah kegagalan itu mencabik-cabik relung hatinya.

Yang paling menyakitkan adalah perusahaan kesembilan. Sartika sudah melewati enam tahap dari tujuh tahap. Malang, di tahap ketujuh, Sartika dinyatakan gagal. Tidak diterima. Sartika melihat jutaan pyramid yang dia bangun runtuh begitu saja. Dan selalu, sang pemuda lah sasaran kekecewaannya.

“Sartika, kau tahu? Apa yang membuat batu besar bisa pecah setelah dipukul seratus kali?.” Katanya seraya mengetikan tulisan-tulisan dosen di dalam skripsinya.

Sartika menggeleng di balik percakapan telepon. “Mungkin pukulan ke seratus itu yang paling keras, jadi batunya hancur.”

Tangan pemuda tetap konsentrasi mengetik. Sementara pikirannya mencari akal untuk menenangkan Sartika. “Bukan karena itu.” dia menghentikan jemarinya yang mengetik, lalu menghela napas. “Batu itu hancur karena 99 pukulan sebelumnya.” Hening. Lantas semua hening. Airmata Sartika kembali berderai. Kali ini bukan karena kecewa.

***


Minggu, 03 April 2016

Catatan Seorang Sarjana (part 2)

Saat menulis ini, aku sudah menyandang profesi penulis profesional. Sebuah passion dan impian yang telah kucapai setelah melewati tahapan yang tidak mudah. 

Hari itu, bulan Juni 2014... 
Aku... sarjana delapan bulan. Sekarang menyandang status tambahan sebagai pegawai swasta yang masil kontrak. Tepatnya seorang Technical Sales Representative di sebuah perusahaan obat-obatan dan vaksin. Sales atau kusebut marketing. 

Setelah berkelana melamar pekerjaan di dua puluh perusahaan, dapat panggilan, lalu tes, hanya ada dua perusahaan yang menyatakan aku lolos. Tentunya dengan jabatan yang saling bertentangan. Di sinilah jati diriku diuji. Tentang siapa aku dan bagaimana aku. Semoga kalian bisa mengambil manfaat dari kisah ini. 

Baiklah, aku mulai dari perusahaan pertama. Bergerak di bidang kemitraan ayam broiler. Singkat cerita, perusahaan ini menempatkanku sebagai Admin Logistik karena melihat hasil psikotesku. Menurut HRD-nya, aku tipe melankolis yang cocok jika bekerja sebagai logisitik atau di keuangan. 
Padahal aku mendaftar di marketing. Aku merasa, karakterku yang mudah jenuh tak cocok di posisi itu. Apalagi ditambah aku yang cerewet dan suka berpetualang. Sedikit pembelaan, hehehe... bukan karena perusahaan ini tak berkualitas tapi karena aku yang belum puas dengan proses yang terlalu pendek. 

Tatkala itu aku berpikir, alangkah mudahnya aku mendapat pekerjaan hanya dalam waktu tiga minggu setelah aku wisuda. Aku ingin proses yang lebih menantang, lebih meyakinkan tentang diriku. Akhirnya, aku membuat sebuah keputusan bodoh, menurutku. Resign alias keluar dari perusahaan ini dalam waktu kurang dari satu bulan. Alasanku karena aku ingin ikut tes CPNS. Ya aku memang ikut juga atas permintaan orang tuaku. Ah mungkin, Tuhan belum berkehendak, aku nggak lolos. Nah, di sinilah letak kebimbanganku. Setidaknya dalam hati kalian pasti bertanya, sebenarnya aku ingin kerja di mana? Yapz, pertanyaan tepat. Dan aku punya jawaban. 

Yang kupikirkan dan kuimpikan dari dulu sampai sekarang adalah aku bisa bekerja sebagai jurnalis di media massa ternama di Indonesia. Atau minimal aku berkerja sebagai copy editor di penerbitan ternama di negeri khatulistiwa ini. Kenapa? karena passionku adalah menulis dan semua yang berhubungan dengan seni dan sastra. Impianku menjadi penulis novel ternama di Indonesia. 

Mimpi tinggalah mimpi. Justru sesuatu mendorongku untuk berbelok arah. Aku mencari kerja lagi dengan mendaftar di bank-bank besar di Indonesia. Yah, begitulah hasilnya. Tahap psikotes menyatakan aku tak layak jadi pegawai bank. Entah apa yang merasuki pikiranku sehingga mendaftar di bank. Mulai dari bank negera hingga swasta, semuanya aku sambangi. Tapi, lagi-lagi aku tidak lolos seleksi. Ah, betapa rumitnya jalan ini. 

Sampai pada malam yang hening, sebuah surat elektronik, katakan saja begitu, dari perusahaan bergelar AgroMedia Pustaka mengisi inbok teratas. Seketika itu mataku berbinar. Ya, aku telah menemukannya, menemukan passion sekaligus profesiku. Tepat seperti yang kuinginkan. Kau tahu apa itu? Mereka menyebutnya, REPORTER. Entah bagaimana melukis bahagia di malam itu, rasa-rasanya aku ingin berteriak, I am the winner! kepada semua orang yang pernah merendahkanku. Kepada mereka yang meremehkan passion menulisku. I am very, very happy guys!

Minggu, 09 November 2014

Kita

Getir… Menyesaki tiap ruang hati. Satu titik cahaya, seolah memaksa airmata terhempas keluar dari rumahnya. Sakau… Aku diuji, Diuji oleh kehidupan. Tanganku bernanah darah. Mecintaimu dalam gelapnya dunia. Berjalan… Ikuti jejak langkahmu yang kering. Tetapi jemariku tak mau lepas dari kaitan jemarimu. Seperti udara yang bebas, kau melesat ke langit, gapai bintang. Entah kapan, tapi keyakinanku telah membuncah. Kau kelak lebih terang dari lilin dengan seribu cahaya. (Cirebon, 09 November 2014)

Kamis, 13 Februari 2014

Sajak Luka

Patah. Tersayat. Aku tidak lagi merasa bagaimana hujan mengelus mesra wajahku, di tepian jendela yang kau sebut sebagai cermin menatapi mata indahmu. Petang kini berselimut kabut, dekat, bercampur dengan buliran bening, semakin larut. Aku rebah. Dinding hatiku roboh. Bernanah. Berdarah. Kau, menggerusnya. Melumatkan. Lalu aku terbenam, bersenandung, dalam sedih tak berbekas.

Anomali (4)

berjalan menyusuri belantara tanpa pernah peduli marabahaya tidak kah kau ingin bertanya apa aku baik-baik saja dunia ini fana manusia hanya...