Rabu, 24 Oktober 2012

Memaknai Jatuh Cinta

Semalam seorang berdiskusi denganku tentang makna jatuh cinta. Katanya, setiap orang bisa mengatakan dirinya sedang jatuh cinta, tapi hakikatnya kadang dia tak tahu apakah dia benar-benar jatuh cinta. Sangat sulit mendefinisikan arti jatuh cinta, begitu komentarnya. Dia menyisipkan beberapa makna jatuh cinta. Dia berkata, "Jatuh cinta adalah ketika kamu mengaguminya bertahun-tahun, mengoleksi foto-fotonya, selalu membuka fbnya...". Sebenarnya masih ada sambungannya. Namun berhubung SMSnya sudah terhapus, hanya bagian itu yang aku ingat. Kemudian, dia berucap lagi bahwa kata-kata dari Mario Teguh lebih indah. Sayangnya dia tidak bisa mengirimkan lewat pesan di ponsel karena filenya terhapus (Kecewa). Kata seorang di Pontianak sana, jatuh cinta tidak perlu dimaknai apa-apa karena tiap orang memiliki cinta yang berbeda. Yaahh... tak tahulah, bagiku setiap orang berhak untuk mengeluarkan statementnya, hehehe.... Kalau untukku, jatuh cinta bisa berkali-kali tapi mencintai adalah apa yang pertama kita jumpai.

Kamis, 12 Juli 2012

Ketika Langit Tak Lagi Indah di Bulan Desember

Ketika langit tak lagi indah di bulan desember… Kucium hatimu dengan amat sakral pada hari penuh ketegangan. Akar jiwaku luruh, kita telah bercerai berai, sedangkan kenangan tak lagi menyisakan cinta. Kita adalah angin, tetapi tidaklah berhembus ke arah yang sama. Kita adalah matahari, tetapi terpisah di antara Andromeda dan bimasakti. Dan kita adalah barisan kata-kata, tetapi bukan paragraf dalam selembar kertas. Entah berapa lagi kejemuan ideologi membukit jadi gunung, gunung jadi lembah dan lembah jadi lautan. Sebab kau kini serupa api, memadamkan hentakkan kaki-kaki hujan. Tiba-tiba saja kau jelmakan dirimu selaksa rubah di bumi. Memangsa siapa saja, menikam, menelan jantung siapa saja. Ketika langit tak lagi indah di bulan desember… hitam mencerca sinarannya. Aku dan kau bertarung abstrak, bertanding kiasan, namun hantaman ini teramat tajam lukanya, hingga aku tak tahu apakah akan selalu kelabu.

Selasa, 10 Juli 2012

Ketika Desember Bernyawa

Ketika Desember mulai bernyawa lagi, aku ditikam takut teramat dalam. Rasa-rasanya sepi melibasku di antara keramaian, aku tersudut dan merancau seorang diri. Adakah kau sahabatku? setelah hitam yang menodai putih ini, ataukah memang kau sandera separuh jiwaku. Adakah kau merinduiku? seperti dahulu, tatkala desember belum nampak kelabu. Aku sakau ingin mendekap hati kau kembali, di sini, di tepian langit yang indah. Bertajuk di pinggiran danau, bersenda gurau. Adakah kau tahu? Kekalutan yang membunuhku diam-diam, dalam sadarku. Ketika Desember sudah bernyawa, segera kupinang hujan agar padam perapian.

Senin, 11 Juni 2012

Mata Kekasih

Matanya mata kekasih. Tajam, menusuk dalam. Matanya mata kekasih. Seperti ratusan elang mengepakkan sayap, membawa kabar-kabar cakrawala. Matanya, setetes embun, menaklukan kerasnya bebatuan. Duhai gurita malam, sungguh gelap amatlah terang. Desakan aroma matanya menggerakkan hati siapa saja. Apakah bintang-bintang benar bersangkar di matanya, sebab matanya, mata begitu indah di mataku? Ataukah aku yang sedang sakau? Sampai bait terakhir syair ini… matanya, tetap mata kekasih… Semarang, 18 Mei 2012

Sabtu, 26 Mei 2012

Kau ...

Entah siapa kau yang membenamkan tatapan bintang ke mataku. Tidak tahu darimana kau bermula. Namun, ribuan getaran mencipta gelombang elektromagnetik di aliran darahku. Jantungku ngilu disentuh ratusan embun. Baru kemarin aku mengenalmu. Tetapi rasa-rasanya kita pernah bertemu. Buliran-buliran jingga itu seakan terus membanjiri jiwaku. Menggodaku... Sekali lagi, aku tak pernah tahu siapa kau,duhai degupan nadiku. Yang kutahu adalah kegersangan ini pelan-pelan menyejuk dengan sakral...

Selasa, 15 Mei 2012

Kasih Putih yang Menghitam

Malam dekaplah aku erat,sebab aku tak mampu lagi mengulum senyum dalam sujudku. Kurasa desah kerapuhan, kucium nadinya di celah-celah lubang hati, tetapi luka. Sambutlah tangan ini wahai hari yang kian petang, kasih putih tiada bertara. Hendak menggapai lentera itu namun tak sanggup. Dialah sesungguhnya sang kandil kemerlap, kini pelitanya hitam, menikam. Meredup perlahan. Duhai gurita kegelapan, cambuk aku dengan gelapmu. Mangsa aku dalam tegasmu agar tak sakau dimabuk rasa. Biarkan sekujur tubuhku meleburkan asa, mencaci raga tanpa suara ataukah sekedar mencari pelarian dari benda bernama cinta. Malam dekaplah aku erat, sebab aku tak mampu lagi menampung buliran mutiara dalam mataku.....

Jumat, 04 Mei 2012

WAJAH SAKAU PERTANIAN NEGERIKU

Dengar,
Dengarkah desah kerapuhan tadi malam?
Atau senandung keraguan tatkala pagi menjelang.
Kita telah terbangun,
selalu terbangun di abad ini.
Karena mata kita adalah mata rantai mata yang melihat jutaan hektar hutan, sawah, ladang, perkebunan, peternakan, perikanan.

Betapa tak lepas dari pandang kita, ada ribuan burung camar kerap terbang di atasnya.

Kita pasti menyaksikan, perhelatan cuaca dan musim, denyut nadi sungai dan lautan serta nafas-nafas bencana mengendap diam-diam.
Entah, kapan terakhir kali kita mengalami, rasanya sudah terlampau lama hingga zaman terseok, wajah negeri pun sakau dilibas habis krisis, tak habis-habis, atap bangsa roboh, jatuh berserak-serak.

Derai-derai ekonomi petani rakyat terburai, airmatamu, wahai petani, tumpah berlerai-lerai.
Tidak kah kita malu? malu pada puluhan petani.
Hidup kita disubsidi, subsidi dari keringatnya.
Tidak kah kita malu? pada bulir-bulir indah, kuning keemasan itu seusai dipanen satu-satu, dikemas menjadi satu tetapi ketika tiba di kotaku bibirku lesu, untuk mengatakan bahwa inilah bentuk penindasan di negeriku.

Hai, anak zaman yang megah adakah rasa bersalah? menggantung di hatimu.
Kita hirup bau asap pembakaran gabah kita hisap udara bernanah, hebatnya kita dengan tangan terkepal di hadapan pemerintah.
Antara swasembada dan tidak swasembada, antara menghentikan dan meneruskan impor beras, dan antara luka kita dan luka mereka.

Mentari baru kembali terbentang, namun nasib buruk petani tak beringsut hilang.
Garis-garis penderitaan tergambar jelas berkepanjangan, berulang-ulang, setiap pemilu datang.
Kepada mereka janji-janji kampanye diumpankan.
Sedang perubahan berlari sangat lamban.
Kepada Presiden yang naik turun, menteri, pejabat eselon, Gubernur, Bupati, Camat, Lurah.
Kepada penghuni bumi yang berleha-leha dan kepada semesta yang kian murka, Doa ini kita sanjungkan untuk mereka, para petani, penopang kerontang perut bangsa.

Rabu, 18 April 2012

Aku ingin sendiri sampai bulan desember berakhir, agar ku tak meninggalkan kejemuan di hati seseorang atau luka karena berkawan. Sebab aku enggan menjadi embun hanya untuk seorang saja, sebab ranting-ranting hatiku masih rapuh, dan sebab daun-daunnya belum tumbuh. Ketakutan mendera serta langkah yang tertatih, seakan sebongkah millestone bahwa aku memang harus sendiri sampai bulan desember berakhir.

Kamis, 05 April 2012

Gamang

Titik api ini sakral dan dalam, melagukan lagu kegamangan akan hidup, setengah mengoyak pikirku, untuk mencari jalan terang. Ada titik hitam yang membuatku takut. ia serupa malam tanpa akhir, menebar bau-bau sesak, ia jahat mencengkram hati, menggali borok di dindingnya. Ia menjumpaiku setiap musim berganti, memasungku dalam mimpi, aku letih dan lemah, sampai darahku deras mengucur, ia terus melukaiku. Dan putih itu pun pergi lagi... Kemudian... ada rasa asing yang menyelinap, dalam-dalam dan sakral. Menjentikkan warna merah jambu, hingga buliran dilema itu pun benderang mencuat ke permukaan, sedang aku ingin mencintaimu dengan hitam, dengan luka di tubuhku, dengan pengkhianatan, meskipun kandas, hati ini tak jua ingin menutup lembaran usang. Terus bergolak, mereguk nyeri hati, pada pilihan-pilihan sakral, pada kejemuan lara, tetapi aku masih tetap berjalan di atas derap-derap kelam... Puisi by verra

Minggu, 01 April 2012

Kusadar hidup ini hanya sebentar....untuk apa putus asa...hanya buang buang waktu saja. Bukankah setiap orang punya masalah yang harus kita lalui dengan hati yang tabah...lupakanlah semua masa lalu kelabu, kita susun langkah baru... Harapan, kesempatan dan waktu tidak akan datang dua kali dalam hidup... Maka bersyukurlah,,hari ini kita masih bisa berjumpa, melihat dunia dan bersenandung dalam cinta. Hidup memang berat, tapi harus tetap dijalani. Semua pengorbanan menjadikan kebahagiaan. Jalan masih panjang...jadilah terang di antara gelap. Jadilah air di tengah tandusnya padang. Jadilah jawaban,,jangan hanya ucapan. Jadilah harapan jangan hanya berharap...Terus melaju ke depan,,melaju kencang dengan segenap kekuatan...

Jumat, 30 Maret 2012

Istimewa...

Istimewa...
dengan nilai 100 terendap dalam hati
Istimewa...
begitu sederhana
Istimewa...
selalu mencoba untuk melangkah ke depan
tanpa mengabaikan masa lalu
Istimewa...
tak sedikit pun mengumbar kehebatannya
Istimewa...
sangat istimewa
entah sejak kapan istimewa itu ada...

Tempat yang Dulu Kau Sebut Rumah

Tempat (yang Dulu) Kau Sebut Rumah

Tumpukan bata di sudut jalan mulai berlumut tak ada angin berembus lewat jendela setiap pagi pintu berderit hanya sekali tatkala penja...