Minggu, 19 Februari 2012

Aku selalu yakin.....

Aku selalu percaya pada suatu hari yang nyata. Tatkala aku tak mendapatkanmu bersamaku. Aku percaya, kau masih menyimpannya dalam hati. Kenangan yang dalam dan indah. Memori sempurna lebih dari sekedar imajinasi.
Saat mata, tangan, dan mulut terdiam. Tak satu pun berucap. Hanya kerlingan cahaya yang nampak dari rona matamu membuatku yakin akan satu hal. Meski mustahil. Meski tak mungkin kau kirimkan ujung pelangi sampai ke bumi, aku tetap yakin kau tak akan melupakan semua jejak perjalanan kita seperti dahulu...sebelum keadaan berubah.
Dan kini, aku masih sama, seperti yang kau kenal waktu itu. Aku masih tersenyum ketika kau marah, masih mendengar ketika kau bicara, masih mengalah ketika kau tak ingin dikalahkan.
Kau dan bintang adalah serupa sinaran abadi. Walaupun sinar itu perlahan meredup. Aku akan selalu menjaganya tetap hidup. Kau adalah siapa saja,,yang pernah mewarnai hidupku,,kemarin,sekarang atau nanti...

Jumat, 30 Desember 2011

Masih setia

Dengarkan suara hatiku...
terus memanggilmu...mengendap di gemuruh hujan...
berpacu dengan hembusan angin...
ku selalu yakin kau menadahnya dalam ruang hatimu...
sejak dulu..sejak malam yang bahagia itu...tatkala sebuah ruang pertemuan terbuka...

Aku masih ingat...
senada lagu yang kau tembangkan...
sampai kini aku menyimpannya dalam-dalam...
aku selalu yakin...butiran kalbumu menitiskan embun-embun sejuk seperti dahulu...

Kemarin kau dan bilahan rona matamu
membuatku semakin yakin...
setia itu ada selamanya...

Minggu, 25 Desember 2011

LAKON

Kadang kumerasa kau bocah kecilku

Yang sedang bermain denganku

Hanya sebuah permainan kecil

Kau memakai topeng seribu wajah

Menghampiriku dengan membawa bunga

Tapi aku merasa melihatmu pada seorang

Dua orang, tiga oarang..oh tiga orang!?

Manakah kau bocah kecilku

Kukira kau hanya bermain-main saja

Kini ku lihat kau telah menjelma

Dengan seribu bayangmu

Aku tahu telah kalah

Ku tak mampu memerankan lakonku

Kau menang bocah kecilku

Tak salah bila dahulu ku sebut kau sutradara

Karena sandiwaramu mampu menjeratku

Membuatku nurut pada hipnotismu

Tak meleset bila ku juluki dirimu teroris hitam

Sebab infiltrasi dalam tiap degup langkahmu

Merajai hati banyak orang

Mencuri hati

kemudian merakit bom untuk leburkan penjaranya

ah! Kau hanya bocah kecilku

yang coba bermain denganku

aku ingin menang

kau pun ingin menang

entahlah selalu berakhir dengan pertengkaran

sudah kukatakan kau hanya bocah kecilku!

Senin, 19 Desember 2011

Rasa itu datang lagi

Entah sudah berapa lama kuhapus rasa ini...aku tak bisa menghitungnya...
Lamat-lamat kurasakan getaran di lubuk hati setiap kali...
Sungguh sinaran itu cahaya bagiku...cahaya dalam gelapku...
Lentera jiwa yang gersang...
tapi aku takut...
aku tak mampu mengungkapkan perasaan yang sangat dalam ini...
Nafasku...
jantungku...
nyawaku...
seakan tergenggam erat oleh degupan nadimu...
karenamu pun aku tetap berdiri tegar di sini...sampai kapanpun aku ingin kau tetap di sini..di hatiku...

Minggu, 18 Desember 2011

Seruat hati yang terluka (2)

detik ke-90...
hari ini entah sudah berapa liter embun yang kutitiskan...tak berhenti...mengingatmu...mengenang kita...mengenalmu...terlalu dalam...
seandainya kau tahu suatu saat, aku berharap kau berlari padaku dan menggenggamku kemudian berkata, "ku masih sahabatmu...benar-benar sahabatmu..."

aku ingin berhenti membaca tentangmu..tetapi hatiku merindukanmu. Sangat merindukan...terasakah kau di sana... aku memanggilmu, memanggil namamu...berharap kau membuang kepalsuan...

Seruat hati yang terluka

Kemana kau sahabatku? Kemana perginya...? Kemana wajahmu yang dulu memperhatikan aku? Kemana senyummu yang selalu menghiburku? Kemana semua rasa rindu itu.
Luka ini kembali menganga saat kubaca coretan kecil darimu. Kelak aku tahu, kau tidak tulus padaku.
Embun mulai bergerak kecil. Lamat-lamat kemudian hilang. Tahu kah kau sahabatku? Bulir-bulir ini tak terbendung ketika kubaca coretan-coretan itu. Apakah kau benar mengkhianatiku sahabatku...?
Apa salahku? Apa aku pernah menyakitimu? Pernahkah kau peduli bahwa perasaanku teramat dalam..teramat dalam mencintaimu, menyayangimu.
Kekuasaan bukan ambisiku sahabatku! tapi ambisimu membuatku harus bergerak maju karena kau telah diselaputi dinding hitam yang kau sangka putih. Sadarkah kau berada di tengah orang-orang yang dulu menjatuhkan orang yang kau cintai. Kau kira apa lentera ini sahabatku? Apa kau pikir cuma sebatang lilin mungil tak bernyawa?
Kini kau buat aku rapuh. Hancur berkeping-keping. Aku tersiksa. Terdesak nyeri dan lara. Aku perempuan, sahabatku!!! cukuplah kau lukai aku sampai di sini saja.
Semoga kau menyadari bahwa kau telah melukai orang-orang yang mencintaimu dengan tulus, suatu hari...

Jumat, 02 Desember 2011

Sebuah jawaban-suatu hari (2)

Entah berapa lama lagi aku harus menyimpannya. Mungkin semakin lama. Aku telah menyembunyikan kebenaran di dalam hatiku.
Setiap kali kita bertemu. Setiap kali kau memalingkan wajahmu padaku, meskipun aku acuh tak acuh...tahukah kau,aku selalu menahan diri. Dapatkah kau kini mendengar detak jantungku memanggilmu, mencintaimu? Tapi aku tak bisa mengatakannya pada siapapun.
Dapatkah kau mendengarnya? hatiku terus menunggu di sana untukmu. Suatu hari nanti kau akan menyadari bahwa meskipun aku mencintaimu, aku merasakan...tapi jauh di lubuk hatiku tidak berani mengatakannya.
Dapatkah kau mendengarnya? hatiku terus menunggu di sana untukmu. Menunggumu untuk membukanya. Aku berharap kau akan menyadari bahwa ada seseorang yang mencintaimu, suatu hari... :-)

Kamis, 01 Desember 2011

Sebuah jawaban (1)

Jawaban akan datang kapanpun itu... sekarang...satu-persatu, aku telah mendapatkan jawaban-jawaban. Entah itu jawaban do'a maupun jawaban teka-teki kehidupan. Meski harus menunggu bertahun-tahun, tapi jawaban tetap ada.
Jawaban akan datang ketika kita benar-benar siap menerimanya. Seiring dengan berjalannya waktu, sadar atau tidak, kita selalu melecutkan pertanyaan, menginginkan jawaban hakiki dari Tuhan.
Percayalah kawan,,Tuhan Mahaadil lagi Mahamengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya.

Senin, 28 November 2011

SAJAK NEGERI KHATULISTIWA

Dari sini aku diajarkan menulis huruf
Mengeja kata-kata
Juga mulai membaca rangkaian kalimat dalam paragraf
Kemarin dulu,
Saat aku masih dimanja dalam tubuh perkasa yang sekarang beranjak renta
Masih kulihat banyak anak tak bersekolah
Arungi takdir dipasung kebodohan
Kurasakan sebagian tak peduli pada pendidikan
Terbayang jutaan generasi terjebak ketertinggalan
Ya Allah...
Syukur kupanjatkan kepada-Mu
Kini negeriku tidak anval seperti dulu
Empang-empangnya penuh ilmu
Sekolah-sekolah semakin gencar berpacu
Benih kecerdasan berputik meruang di setiap kalbu
Merambahnya semangat belajar bukan sesuatu yang tabu

Sepenggal bulan masih setia berpendar di langit negeri khatulistiwa
Satu-persatu bayangan wajah yang kutemui melintas
Adakah di antara mereka yang tidak mengenal bangku sekolah?
Adakah cita-cita bersandar di hati mereka?

Pada jeda perjalanan
Kunanti janji presiden untuk peduli pada nasib anak negeri....

Semarang, 4 Maret 2011

Minggu, 27 November 2011

Keputusan ini demi dirimu, soulmateku...

Semarang, 27 November 2011
Ku tulis ini ketika kau mulai berubah... ketika kau bilang sudah tak sendiri. Aku hanya menjawabnya dengan seulas senyum yang paling manis.
Mungkin aku telah terlambat menyadari, tapi aku tak menyesal. Aku bahagia memberimu, bukan memintamu. Sejuta duri yang kau tanam dalam rangkaian bungaku, seribu warna kulukiskan di langitmu.
Kau tak bisa dustai pagi yang terus berembun kini. Aku melihat sinaran lembut di matamu, kau selaputi dengan egomu. Aku terkapar nyeri. Saat kepura-puraanmu justru menjeratku. Aku terdampar dalam keputusanku sendiri. Memutuskan sendiri.
Ini keputusan hatiku. Aku tak akan mengakhiri...sesuatu yang selama ini kekuatanku, ketegaranku...Percayalah soulmateku, aku selalu di sampingmu...menjagamu,,hingga memang kau telah pantas untuk sendiri saja, tanpaku.

Minggu, 20 November 2011

Soulmateku... aku tak pernah pergi

Soulmateku...
aku selalu di sini, menemanimu, selalu dalam ramai dan sepi...
Soulmateku...
aku setia membingkai rasa dan mengertimu...
Soulmateku...
aku tahu, kau masih ingin memeluk seluruh jagad raya ini, menjelajah bumi dan menembus garis mayapada... Tenanglah Soulmateku...aku senantiasa menanti. Merekam segenap katamu, membungkus salam-salammu dan mendengar nyanyian di hatimu, selalu, meski kadang kau tak tahu.
Soulmateku...
kemarin ku dengar, kau membisikkan sesuatu yang indah di telingaku, tapi kenapa hatiku terluka... Padahal itu sangat indah bukan? Kau mendengungkan lima huruf, kau bilang kau sangat merasakannya. Namun, aku perih Soulmateku.... Apakah kau menikamku dengan pisau sehingga kini aku berdarah-darah? No... aku yakin kau pun selalu ada, meski bukan ragamu.
Soulmateku...
percayalah... aku tak akan pernah pergi... sampai kau ingin aku pergi.
:-) tegar ini selalu ku jaga...selamanya... :-)

Tempat yang Dulu Kau Sebut Rumah

Tempat (yang Dulu) Kau Sebut Rumah

Tumpukan bata di sudut jalan mulai berlumut tak ada angin berembus lewat jendela setiap pagi pintu berderit hanya sekali tatkala penja...