Kamis, 03 November 2011

Ketika Empat Paragraf mempertanyakan

Mungkin saja waktu terasa begitu asing ketika kita harus melewati hal-hal yang tak kita inginkan. Rasa ingin pergi, rasa enggan dan rasa letih seringkali menjadi cambuk paling menyakitkan. Sekujur tubuh terasa kelu dan lemah. Tiada kenangan yang membangkitkan segera raga-raga itu,,raga penyulut bangsa.
Derai hujan pun tak mampu meredam bara api, dua bulan ini. Musim ini terus terjadi setiap tahunnya. Tak seorang pun bisa menghalaunya bahkan sekedar menepisnya. Sudah suratan takdir, begitu kata para intelektual muda di sini, di kampus hijau ini.
Tapi mengapa, tungku-tungku pesakitan selalu saja berkobar, sedangkan embun tak kuasa menyejukkan. Apakah warna pelangi bukan lagi keindahan? Apakah spektrum hanya serupa hiasan? Dan apakah-apakah yang lain cuma selaksa pertanyaan.
Aku, kau dan kalian serta semuanya adalah komponen yang seharusnya menjadi mata rantai dan pondasi negeri. Percayalah!

Rabu, 02 November 2011

Manakala menjelang senja

Aku tahu kalian jengah. Kalian letih. Kalian bosan. Kalian galau. Aku bisa membaca itu meski kalian tak bicara. Meski hanya lewat kedipan mata. Aku mengerti, bahkan memahami.
Dalam senja yang perlahan menikam hari ini, aku menanti kalian di sini, di tempat tergoresnya idealisme mahasiswa. Satu menit, dua menit, lima menit, tiga puluh menit...hingga waktu sepertinya enggan berhitung lagi, aku masih menanti. Walaupun pesan singkat dari kalian menghujam jantungku bertubi-tubi. Membelah nuraniku, aku tetap menanti dengan seulas senyum yang ku simpan. Sebab senyum ini sangat istimewa. Untuk kalian. Sahabat-sahabatku yang ku nanti.
Lihatlah, serutan cahaya senja memakiku. Mungkin ada yang salah denganku. Angin mengejekku. Mereka bilang, aku bodoh. Aku tolol. Aku terlalu lemah. Aku tak mampu menjaga kalian. Mereka bilang, mereka kecewa, karena aku mensia-siakan kalian... Kalian tahu? Kalian adalah permatanya. Kalianlah tiangnya. Kalian berlian dunia yang tiada tara.
Tapi aku? segumpal debu yang terinjak lara. Terhimpit dilema. Terbagi cintanya. Ini, di dasar kalbu ini, aku lukis lekat-lekat wajah kalian. Di otak ini, aku patri nama-nama kalian. Aku tahu apa makanan kesukaan kalian, keinginan kalian dan semua yang ada di benak kalian.
Senja semakin sombong mengangkat ronanya. Lihatlah kawan... aku bertahan di sini... dengan senyum tersembunyi... :-)

Semarang, 2 November 2011

Selasa, 01 November 2011

BERPIKIR POSITIF INDAH (SEBUAH KATA DARI ACCOUNT FB YG SELALU MELEKAT)

Berpikir positif berarti selalu berpikir tentang kebaikan, baik dari keburukan maupun dari kebaikan itu sendiri. Pikiran yang positif akan membuahkan sikap yang optimis. Optimis berarti jauh dari keputusasaan. Hal tersebut sangat berpengaruh pada apa yang akan kita dapatkan. Mengapa demikian? Tentunya karena prasangka kita akan sesuatu secara alami mengarahkan kita kepada masa depan yang akan terjadi. Begitu pula ketika berdoa. Bukankah Allah SWT berfirman bahwasanya Dia mengabulkan doa sesuai dengan prasangkaan hamba-Nya. Bacalah kisah berikut.
Seorang gadis negro berusia 11 tahun, Akeelah Andersoon, Memiliki kecerdasan luar biasa dalam menghafal dan mengeja kata-kata. Tidak hanya Bahasa Inggris, tetapi juga berbagai bahasa di seluruh dunia. Sayangnya, dia punya sifat minder. Karena didorong oleh gurunya, dia berani bertanding di atas panggung dengan anak-anak berkulit putih. Oleh gurunya, dia disarankan berlatih pada Dr. Larabee. Saat latihan Akeelah melontarkan keinginannya dengan penuh keyakinan dan optimis. Dia berteriak total “ I want be the winner of spelling! “ ucapannya itulah yang tertanam kuat di hatinya. Akeelah adalah peserta termuda. Awalnya, dia tidak percaya diri pada kemampuannya. Apalagi ada saingan tanpa tanding yang dua kali berturut-turut juara dua nasional, bernama Dylan. Namun, Akeelah ingat kata-kata pelatihnya. Ketakutan terdalam kita bukanlah karena tidak cakap. Ketakutan terdalam kita adalah karena kita mampu mengukur. Dengan segala keyakinannya, tiba-tiba dia bisa mengeja kata-kata tersulit sekalipun. Sampai kemudian dia memenangkan perlombaan dan maju ke tingkat nasional bersama Dylan. Ketika akan ke tingkat nasional, pelatihnya tidak bersedia melatih lagi. Tapi Akeelah tetap bersikeras untuk mengikuti lomba mengeja. Walaupun dia tahu terlalu sulit mengalahkan Dylan. Lagi-lagi pikiran positif akan menang menjadi kekuatan baginya. Yah, bisa ditebak. Akeelah pun berhasil menjadi juara pertama.
Cuplikan cerita di atas merupakan sinopsis film Akeelah and Bee yang mengisahkan tentang the power of positive thinking seorang gadis bernama Akeelah. Meski usianya baru 11 tahun, dia yakin dapat mengalahkan lawan sehebat apapun. Dia yakin bahwa Tuhan akan mengabulkan keinginannya.
Agaknya sedikit banyak cerita tersebut memberikan banyak hikmah. Di antaranya, pikiran positif akan membawa kita pada kondisi yang lebih baik. Tidak ada yang dapat menggoyahkan kita tatkala kita sudah berpikir positif. Sekalipun kita dalam keadaan stres, misalnya kegagalan SNMPTN tahun ini tidak lantas membuat kita menyerah. Justru membangkitkan semangat kita untuk berhasil pada tahun selanjutnya. Atau ketika ekonomi keluarga memburuk; kita yakin bahwasanya Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya terlunta-lunta di dunia.
Positif thinking juga diperlukan untuk menyelesaikan sebuah masalah. Sebagai contoh, di sebuah rumah kos ada seorang mahasiswi bernama Aira kehilangan dompetnya. Dia berprasangka salah satu dari teman-temannya lah yang mengambil dompetnya. Mereka tidak bisa menerima tuduhan itu karena tidak ada yang merasa mengambil. Namun, Aira tetap bersikeras. Sampai akhirnya pada suatu sore, seorang ibu mengantarkan dompet milik Aira. Ibu tersebut berkata bahwa ia mlihat dompet Aira terjatuh di jalan. Nah lho, sekarang ketahuan kan mana yang benar dan mana yang asal tuduh tanpa bukti konkrit.
Kawan, berpikir negatif sangat buruk dampaknya bagi diri kita dan lingkungan. Dalam diri kita menimbulkan kecemasan, prasangka-prasangka, dan su’udzon, naudzubillah min dzalik. Positif lebih baik demi kemaslahatan bersama walaupun kadang tidak sesuai dengan kenyataan. So, be positive thinking for get the best future!

Semarang, 24 Januari 2010

Jumat, 28 Oktober 2011

Butuh keikhlasan

Kehidupan ini bukan kincir angin yang hanya akan sejalan, seputaran, satu arah dan satu bentuk saja. Ia (kehidupan) laksana lautan mahaluas. Ada banyak terumbu karang,buih, palung, gunung, bunga laut karam, ikan, kuda laut serta ombak yang menerjang. Dan kita adalah kapal yang berlayar di atasnya.
Kadang saat kita mengemudikan kapal, ada saja gelombang menghantam. Kita akan berjumpa dengan gunung es yang menjulang. Dan mungkin saja kita kan terdampar di pulau yang indah lantas terpesona dengan keindahannya.
Namun kawan... jangan pernah terhanyut oleh keindahan itu. Mungkin benar, keindahan itu menjanjikan kenyamanan, tapi belum tentu ia adalah kebahagiaan. Kadang-kadang, hal yang manis sebenarnya menyakitkan, dan hal yang pahit sebenarnya menyenangkan. Yang penting satu hal kawan... butuh keikhlasan...

28 Oktober 2011
selamat hari sumpah pemuda!

Kamis, 27 Oktober 2011

In my heart part 0ne

aku resah dengan kasak kusuk dunia kampus ini...
bukan karena takut berhadapan dengan pak dosen bu dosen, bukan juga karena enggan pratikum atau paranoid dengan ujian...
tapi lebih dari itu...
entah sejak kapan rasa begini datang, ia tak diundang, dan tak mau ku antar pergi...

dalam penglihatanku, semua yang kini terjadi adalah bagian dari bandwith limited, sesuatu yang dibatasi...seharusnya kita bisa lebih dari itu! hanya saja kita terjebak pada kata-kata takut.

kawan...mungkin kini tak akan kita temui damai di sini, bahkan sementara ini timbul ricuh..
namun percayalah,,cinta akan membuat segalanya indah!

Selasa, 25 Oktober 2011

Maret

Tungku yang memanas itu masih terasa
ketika maret menggulung kisahku
mengubur asa
mencabik rasa

Entah seberapa besar sayatan
luka ini kian menganga
aku pun terdampar dalam sepi yang tiba-tiba
dalam gelap yang tak kuinginkan

Kelam yang semakin kelam
maret melibasku dengan tebasan pedang perkara
diamku menahan pilu
merajut benang-benang kepasrahan

Maret kini telah pergi
dan ada yang kembali
tapi bukan yang dulu lagi...

Mengenag 20 Maret 2009

3 tahun yang lalu itu masih 'ada'

Tak mudah ku temukan hal yang sama seperti dulu,,saat semua masih di sini di dekat hatiku...tak ada yang bisa menggantinya.
Entah seberapa dalam, sampai-sampai luka ini cepat sekali sembuh dan rasa ini selalu ada. Sekarang di sana, dia bertahta. Aku tahu, dia dan kehidupannya yang sangat cemerlang jauh di 'timur seberang'.
Mungkin sesal dan kecewa memang ada, bahkan perih terus menikam hati. Namun, ketulusan ini masih.... untukmu, selamanya. Jika kita tak bisa bersama saat ini, maka cinta akan menyatukan kita di masa depan nanti.

Selasa, 18 Oktober 2011

Kalau boleh bicara politik...

Ini aku tulis ketika aku sedang sibuk mengurusi diskusi politik Jum'at nanti (21/10), ketika hujan rintik-rintik datang tiba-tiba...
Kata politik, tak ada kawan abadi, tapi bagiku ada! Kata politik, tak ada lawan abadi, ya kalau yang ini aku setuju.
Memang benar...politik adalah barang yang paling kotor di dunia ini, namun jika sudah tak mampu menghindar maka terjunlah.

Jumat, 14 Oktober 2011

Inilah hati seorang aktivis yang terdesak politik

Siang hari di kampus begitu mencekam...Tak ada yang asing di sini namun semuanya nampak mengerikan. Kecurigaan terekam di mata-mata siapa saja yang melalu jalanan ini. Serta merta ketakutan mencabik-cabik hati hingga ke akarnya. Ada pilu mengiris saat rasa-rasa tergadaikan seolah sebagai pembayaran.
Huuuummm.....entah kapan akan berlalu, pergolakan abu-abu ini. Ingin terbang melesat tinggi tetapi sayap telah dipasung di sangkar yang aneh.

Rabu, 05 Oktober 2011

Harapan sebuah usia pemuda

5 oktober 2011

Waktu terus berjalan, tak pernah berhenti berputar. Ia senantiasa menghadirkan berbagai fenomena, peristiwa, tragedi dan cerita. Menumpahkan berjuta rasa, suka, bahagia, duka, nestapa, amarah, kesal, kecewa...namun waktu tetaplah benda mati yang tidak patut disalahkan. Jika ada yang terlewatkan dari kesempatan atau harapan yang tak tersampaikan, itu adalah bagian dari proses kehidupan.
Waktu berbanding lurus dengan usia. Ketika waktu berdetak, maka usiapun kian bertambah. Dan kita semakin dekat dengan kematian. Orang bilang, hanya cinta yang bisa membuat kita bertahan meski rapuh, tetap tegar meski letih dan selalu tersenyum meski hati menangis. Bukan bagaimana waktu itu terlihat indah melainkan apa yang kita kontribusikan untuk diri kita, untuk keluarga, bangsa dan negara karena kita adalah pemuda.

Kawan, waktu, harapan, usia dan pemuda merupakan rangkaian rantai yang tak boleh lepas. Aku pun adalah bagian dari mereka (pemuda) yang memiliki usia. Ku ingin harapanku sesuai dengan kenyataanku tanpa menafikan sebuah tantangan...semoga... :)

Senin, 26 September 2011

Rasa

Rasa
jadi anomali kehidupan...
menyesak melesak masuk ke lubang hati terdalam
Rasa
luruhkan seribu rasa berapi
nyeri mencerca jantung
menahan pedih
Rasa
sebuah keniscayaan
terselubung menggempur diam-diam
saat sadar dan tak sadar
Rasa
kadang indah
kadang suram
Rasa
bulatan-bulatan pena
yang menari
menggeliat-geliat
mencabik rasa
melengking
menjerit
memberontak
dalm rasa......

Semarang, 26 September 2011

Anomali (4)

berjalan menyusuri belantara tanpa pernah peduli marabahaya tidak kah kau ingin bertanya apa aku baik-baik saja dunia ini fana manusia hanya...