Minggu, 09 November 2014

Kita

Getir… Menyesaki tiap ruang hati. Satu titik cahaya, seolah memaksa airmata terhempas keluar dari rumahnya. Sakau… Aku diuji, Diuji oleh kehidupan. Tanganku bernanah darah. Mecintaimu dalam gelapnya dunia. Berjalan… Ikuti jejak langkahmu yang kering. Tetapi jemariku tak mau lepas dari kaitan jemarimu. Seperti udara yang bebas, kau melesat ke langit, gapai bintang. Entah kapan, tapi keyakinanku telah membuncah. Kau kelak lebih terang dari lilin dengan seribu cahaya. (Cirebon, 09 November 2014)

Tempat yang Dulu Kau Sebut Rumah

Tempat (yang Dulu) Kau Sebut Rumah

Tumpukan bata di sudut jalan mulai berlumut tak ada angin berembus lewat jendela setiap pagi pintu berderit hanya sekali tatkala penja...