Sabtu, 26 Mei 2012

Kau ...

Entah siapa kau yang membenamkan tatapan bintang ke mataku. Tidak tahu darimana kau bermula. Namun, ribuan getaran mencipta gelombang elektromagnetik di aliran darahku. Jantungku ngilu disentuh ratusan embun. Baru kemarin aku mengenalmu. Tetapi rasa-rasanya kita pernah bertemu. Buliran-buliran jingga itu seakan terus membanjiri jiwaku. Menggodaku... Sekali lagi, aku tak pernah tahu siapa kau,duhai degupan nadiku. Yang kutahu adalah kegersangan ini pelan-pelan menyejuk dengan sakral...

Selasa, 15 Mei 2012

Kasih Putih yang Menghitam

Malam dekaplah aku erat,sebab aku tak mampu lagi mengulum senyum dalam sujudku. Kurasa desah kerapuhan, kucium nadinya di celah-celah lubang hati, tetapi luka. Sambutlah tangan ini wahai hari yang kian petang, kasih putih tiada bertara. Hendak menggapai lentera itu namun tak sanggup. Dialah sesungguhnya sang kandil kemerlap, kini pelitanya hitam, menikam. Meredup perlahan. Duhai gurita kegelapan, cambuk aku dengan gelapmu. Mangsa aku dalam tegasmu agar tak sakau dimabuk rasa. Biarkan sekujur tubuhku meleburkan asa, mencaci raga tanpa suara ataukah sekedar mencari pelarian dari benda bernama cinta. Malam dekaplah aku erat, sebab aku tak mampu lagi menampung buliran mutiara dalam mataku.....

Jumat, 04 Mei 2012

WAJAH SAKAU PERTANIAN NEGERIKU

Dengar,
Dengarkah desah kerapuhan tadi malam?
Atau senandung keraguan tatkala pagi menjelang.
Kita telah terbangun,
selalu terbangun di abad ini.
Karena mata kita adalah mata rantai mata yang melihat jutaan hektar hutan, sawah, ladang, perkebunan, peternakan, perikanan.

Betapa tak lepas dari pandang kita, ada ribuan burung camar kerap terbang di atasnya.

Kita pasti menyaksikan, perhelatan cuaca dan musim, denyut nadi sungai dan lautan serta nafas-nafas bencana mengendap diam-diam.
Entah, kapan terakhir kali kita mengalami, rasanya sudah terlampau lama hingga zaman terseok, wajah negeri pun sakau dilibas habis krisis, tak habis-habis, atap bangsa roboh, jatuh berserak-serak.

Derai-derai ekonomi petani rakyat terburai, airmatamu, wahai petani, tumpah berlerai-lerai.
Tidak kah kita malu? malu pada puluhan petani.
Hidup kita disubsidi, subsidi dari keringatnya.
Tidak kah kita malu? pada bulir-bulir indah, kuning keemasan itu seusai dipanen satu-satu, dikemas menjadi satu tetapi ketika tiba di kotaku bibirku lesu, untuk mengatakan bahwa inilah bentuk penindasan di negeriku.

Hai, anak zaman yang megah adakah rasa bersalah? menggantung di hatimu.
Kita hirup bau asap pembakaran gabah kita hisap udara bernanah, hebatnya kita dengan tangan terkepal di hadapan pemerintah.
Antara swasembada dan tidak swasembada, antara menghentikan dan meneruskan impor beras, dan antara luka kita dan luka mereka.

Mentari baru kembali terbentang, namun nasib buruk petani tak beringsut hilang.
Garis-garis penderitaan tergambar jelas berkepanjangan, berulang-ulang, setiap pemilu datang.
Kepada mereka janji-janji kampanye diumpankan.
Sedang perubahan berlari sangat lamban.
Kepada Presiden yang naik turun, menteri, pejabat eselon, Gubernur, Bupati, Camat, Lurah.
Kepada penghuni bumi yang berleha-leha dan kepada semesta yang kian murka, Doa ini kita sanjungkan untuk mereka, para petani, penopang kerontang perut bangsa.

Anomali (4)

berjalan menyusuri belantara tanpa pernah peduli marabahaya tidak kah kau ingin bertanya apa aku baik-baik saja dunia ini fana manusia hanya...