Minggu, 26 Juni 2011

Rembulan di ujung dermaga (3)

Sejak semula, cinta memang telah berkotbah di hati Rembulan. Rembulan, seorang mahasiswi S1 UNDIP, berusaha tak terlalu mengurusi soal laki-laki namun akhirnya tertambat juga. Baru dua bulan ia menjalin hubungan dengan Ray. Kakak kelasnya waktu SMP yang sama sekali tak dikenalnya. Justru Ray lah yang pertama kali mengenali Rembulan sebagai adik kelasnya. Tepatnya ketika bulan Mei lalu Rembulan bertemu Ray di dalam gerbong kereta kaligung Bisnis. Walaupun tak mengenali Ray, pertama kali bertemu pandang, Rembulan merasakan ada desiran halus menyelaputi lubang hatinya. Desiran yang sama ketika ia mengalami cinta pertamanya dengan Langgam.

“ Dek, kamu anak SMP satu kan dulu? ”
“ Iya...kok mas tau? “
“ Aku dulu juga kakak kelas kamu, kamu kelas satu aku kelas tiga...Kamu seangkatan sama Zihan kan? ”
“ Iya...betul. Tapi, aku nggak kenal semua anak kelas tiga mas. Masnya dulu aktivis pramuka, PMR atau Paskibra mungkin? Atau OSIS? “
“ Nggak...aku nggak aktif apa-apa...Dulu aku 3F.. Kamu dulu kelas 1 apa ya? Kelasnya di depan kelasku kan? ”
“ Aku 1B mas dulu...”
“ Aku Ray, ingat nggak?” Rembulan menggeleng. “ Kamu namanya siapa ya? Dulu kan kamu nggak pake jilbab,”
“ Aku Rembulan, mas,”
“ Dek, Tahu Aci?” Ray menawarkan sebungkus makanan khas Tegal yang disebut Tahu Aci. Rembulan menggeleng. Ia tak menyerah, “ Ayo ambil, nggak aku racuni kok...”,candanya. Rembulan tetap menggeleng. “ Ya sudah...aku makan sendiri...”, celetuknya sambil melahap sepotong tahu aci. Senyum mengembang di bibir Rembulan. Ada-ada saja.
Seorang gadis cantik seusia Rembulan masuk ke gerbong. Dia berambut panjang, berkulit putih dan tinggi semampai. Sempurna, pikir Rembulan. Ia teringat penampilannya ketika SMP dulu. Kira-kira seperti gadis itu. Tapi, Rembulan tidak pernah memakai make up, sampai sekarang.
“ Dek...”,
“ Ya?”jawab Rembulan.
“ Cantik ya dek, cewek itu?”
“ Iya “.
Ray kembali memandang gadis tersebut, “ Segeeerr banget!” celetuknya. Ada rasa cemburu yang menyelinap diam-diam di hati Rembulan. Tapi, ia segera menepisnya. Siapa dia? Rembulan baru mengenalnya dua jam.
“ Aku boleh duduk sini kan? “ 
“Kok diem aja sih? Eh dek, tadi kamu namanya siapa ya?”
“Rembulan, mas... “, 
 
Tiba-tiba...
“Maaf mas, ini tempat duduk saya...”, seorang gadis bertubuh gemuk serta merta mengusir Ray. Ray tetap ramah dan tersenyum kemudian mempersilahkan gadis tadi duduk di sebelah Rembulan.
“Eh eh mbak,,ini tempat duduk kita!” seloroh seorang perempuan berkaca mata, sekonyong-konyong mendatangi tempat duduk Rembulan. Satu senyuman tersungging dari bibir Rembulan. Ia pun mengalah dan mempersilahkan dua perempuan tersebut duduk. Satu senyuman yang sesungguhnya membuat hati Ray tergetar hebat. Dia merasa luruh dan takluk. Ada sesuatu yang lain dalam diri Rembulan. Dan Ray menyukai itu.

bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tempat yang Dulu Kau Sebut Rumah

Tempat (yang Dulu) Kau Sebut Rumah

Tumpukan bata di sudut jalan mulai berlumut tak ada angin berembus lewat jendela setiap pagi pintu berderit hanya sekali tatkala penja...