Rabu, 29 Juni 2011

Catatan TKW (untuk Ruyati di alam mahadamai)

Mata menekan embun
tak mampu menerka angin yang melintas
Bibir yang selalu beku
berbicara pada awan yang tak pernah berubah
menantang udara di padang pasir
dalam sesak hati demi sebuah taraf hidup


Ini,
kunyanyikan sebuah lagu sendu
mengenang hukum pancung anak negeri
Ini,
kudendangkan syair pilu
menyindir pemerintah yang hanya bisa mengumbar janji
Ini,
kulontarkan puisi ngilu
mengadili aparat-aparat keji
Dan ini,
kudongengkan ceritamu
agar para elit pemimpin segera peduli

Aku tahu sejak dulu
keinginan pulang itu tak digugu
suaramu hanya serupa ranting-ranting layu
tiada upaya menolongmu
Kini,
setelah dunia berdecak menganggumi Indonesia
seolah benar-benar mendirikan proteksi luar biasa
ternyata tak benar nyata
Lagi-lagi semua cuma selembar dedaunan tanpa warna

Sudilah kiranya engkau,
wahai para manusia di atas langit
mengobati lara duka bangsa untuk kesekian kalinya

Dan pada hari yang kian merajuk kebijaksanaan
aku tahu sejak dulu
kau dan kesucianmu...

Semarang, 29 Juni 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anomali (4)

berjalan menyusuri belantara tanpa pernah peduli marabahaya tidak kah kau ingin bertanya apa aku baik-baik saja dunia ini fana manusia hanya...